Wabah Antraks Serang Jogja, Kenali Gejalanya Jangan Disepelekan!

Kesehatan

Life & Style / Kesehatan

Wabah Antraks Serang Jogja, Kenali Gejalanya Jangan Disepelekan!

Wabah Antraks Serang Jogja, Kenali Gejalanya Jangan Disepelekan!

KEPONEWS.COM - Wabah Antraks Serang Jogja, Kenali Gejalanya Jangan Disepelekan! WILAYAH Gunungkidul, Yogyakarta, diserang wabah yang diduga antraks. Sebanyak 12 warga diketahui terpapar penyakit ini karena mengonsumsi daging dari hewan ternak yang mati mendadak. Berita yang bered...
Loading...

WILAYAH Gunungkidul, Yogyakarta, diserang wabah yang diduga antraks. Sebanyak 12 warga diketahui terpapar penyakit ini karena mengonsumsi daging dari hewan ternak yang mati mendadak.

Berita yang beredar juga memaparkan bahwa satu dari 12 orang yang terpapar wabah ini tewas pada Desember 2019. Sementara itu, 11 orang lainnya tengah dirawat intensif di RSUD Wonosari, Gunungkidul.

Antraks sendiri merupakan penyakit infeksi sapi gila yang disebabkan bakteri Bacillus anthracis. Bakteri ini bisa masuk ke dalam tubuh dengan cara yang berbeda. Area yang terinfeksi akan punya kekhasan gejala.

Seperti dilansir dari Medical News Today, ada beberapa gejala yang bisa Kamu kenali dari penyakit antraks ini sesuai dengan lokasi infeksi bakteri. Tapi, perlu Kamu ketahui, gejala baru akan muncul sebulan setelah tubuh Kamu terinfeksi bakteri. Jadi, apa saja gejala dari penyakit antraks?

perlu Anda ketahui, gejala baru akan muncul sebulan setelah tubuh Anda terinfeksi bakteri

Antraks kulit

Antraks yang paling banyak kasusnya ialah antraks kulit. Gejala yang biasanya muncul dari penyakit ini merupakan terjadinya pelepuhan atau muncul benjolan kecil di kulit dan terasa gatal. Kemudian, luka bengkak tanpa rasa sakit dengan area berwarna hitam.

Antraks kulit juga bisa dikenali dari pembengkakan kelenjar getah bening dan jaringan terdekatnya. Gejala ini dianggap paling ringan, karena dengan perawatan yang tepat penyakit akan sembuh. Namun, kalau tanpa perawatan, penyakit akan menjadi fatal dengan persentase sekitar 20 persen kasus.

Selanjutnya

Comments