Tolak Minuman Berbotol Plastik, Menteri Susi: Aku Kurang Suka

Ekonomi & Bisnis

News / Ekonomi & Bisnis

Tolak Minuman Berbotol Plastik, Menteri Susi: Aku Kurang Suka

Tolak Minuman Berbotol Plastik, Menteri Susi: Aku Kurang Suka

KEPONEWS.COM - Tolak Minuman Berbotol Plastik, Menteri Susi: Aku Kurang Suka JAKARTA - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti secara tegas menolak penggunaan botol plastik air mineral saat ia menghadiri acara Ignite The Nation yang berlangsung di Istora Senayan, Jakar...
Loading...

JAKARTA - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti secara tegas menolak penggunaan botol plastik air mineral saat ia menghadiri acara Ignite The Nation yang berlangsung di Istora Senayan, Jakarta, Minggu.

"Ini botol plastik aku kurang suka. Hindari pemakaian plastik sekali pakai," kata Susi sambil sedikit menyela materi pembicaraan yang disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Sarjana Kelautan dan Perikanan Dituntut Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0

Para penonton acara tersebut langsung bertepuk tangan dan bersorak-sorai menyambut pernyataan Susi. Panitia penyelenggara pun segera mengganti botol plastik tersebut dengan kemasan air minum ramah lingkungan.

Susi menghadiri acara tersebut bersama dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf, dan Kepala Badan Koordinasi Penanam Modal (BKPM) Thomas Lembong.

Susi Pudjiastuti

Acara Ignite The Nation mempertemukan para pengusaha perusahaan perintis (start up), dan diikuti oleh 8.000 peserta.

Saat mendapat kesempatan memberikan materi, Susi mengingatkan bahwa komoditas terbesar yang diekspor Indonesia keluar negeri, setelah minyak dan gas bumi, ialah hasil laut. Dia memberi contoh kepiting rajungan dari Jawa Timur yang dapat bernilai Rp5 triliun setahun.

KKP: Sarjana Kelautan dan Perikanan Harus Bisa Melihat Peluang

Susi juga menyokong terciptanya software yang dapat membuat semua kegiatan penangkapan ikan di Indonesia menjadi transparan. Dengan adanya software tersebut, semua proses, termasuk perizinan, dapat dipantau masyarakat secara dalam jaringan (daring).

Dia juga menuturkan harapannya agar kementerian yang dipimpinnya dapat merekrut tenaga-tenaga terbaik dari banyak sekali institusi pendidikan, karena menurut penilaian yang ada sekitar 30 pegawai di Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) masih belum memenuhi standar intelektual yang diharapkan.

"Bagaimana mau diajak kerja kalau seperti itu ? Kita mau cari kapal ini bergerak ke mana ?" guraunya.

Selanjutnya
Loading...

Comments