Tiongkok Kebut Pembangunan Kapal Induk Kedua, Siap Konfrontasi di Laut China Selatan?

Internasional

News / Internasional

Tiongkok Kebut Pembangunan Kapal Induk Kedua, Siap Konfrontasi di Laut China Selatan?

Tiongkok Kebut Pembangunan Kapal Induk Kedua, Siap Konfrontasi di Laut China Selatan?

KEPONEWS.COM - Tiongkok Kebut Pembangunan Kapal Induk Kedua, Siap Konfrontasi di Laut China Selatan? Walaupun kapal induk Liaoning masih menjalankan uji layar, PLAN (Peoples Liberation Army Navy) atau AL Tiongkok ternyata sudah ngebut untuk menyelesaikan pembangunan kapal induk kedua yang berkode Typ...
Loading...

Walaupun kapal induk Liaoning masih menjalankan uji layar, PLAN (Peoples Liberation Army Navy) atau AL Tiongkok ternyata sudah ngebut untuk menyelesaikan pembangunan kapal induk kedua yang berkode Type 001A.

Kapal induk yang dikerjakan di galangan kapal Dalian di dekat Shanghai semenjak 2014 ini konon akan diberi nama Shandong, meneruskan penggunaan nama provinsi untuk kapal induknya.

Nama Shandong tersebut terungkap dari siaran radio dan televisi di propinsi Shandong.

Proses konstruksi Shandong berlangsung dengan lancar, dimana bagian anjungan dan superstruktur sudah berhasil dipasang ke lambung kapal, sehingga diharapkan Shandong dapat diluncurkan ke permukaan air pada akhir tahun 2017.

Untuk hitungan kapal induk yang dibangun dari nol, waktu dua tahun dan sembilan bulan itu relatif cepat.

Masih butuh beberapa tahun lagi bagi Shandong untuk menyelesaikan konstruksinya, termasuk pemasangan SEWACO atau Sistem Senjata dan Komunikasi sehingga dianggap layak tempur.

Dari segi desain, Shandong menyebarkan desain yang sama dengan Liaoning, termasuk dek yang menjulang ke atas untuk ski jump, atau yang dalam terminologi militer disebut dengan STOBAR (Short Take off But Arrested Recovery).

Sistem lepas landas ini menuntut pesawat tempur yang hendak lepas landas dari dek menggunakan tenaganya sendiri untuk lepas landas dari permukaan yang sangat pendek, sehingga membatasi jumlah persenjataan dan bahan bakar yang harus dibawa.

Desain STOBAR juga tidak memungkinkan Shandong untuk membawa pesawat peringatan dini atau pesawat mata-mata karena pesawat tersebut membutuhkan landasan yang panjang untuk lepas landas dengan tenaganya sendiri.

Akibatnya, pesawat tempur yang beroperasi harus mengandalkan panduan dari radar kapal yang terbatas, atau harus mengandalkan tangkapan dari radar OTH (Over The Horizon) yang ada di darat.

Pengoperasian jet tempur dari ski jump juga tidak ideal dan berbahaya. Terutama kalau terjadi masalah pada mesin mirip kasus celakanya MiG-29K atau Su-33 yang gagal lepas landas dari kapal induk Rusia Admiral Kusnetzov ketika ditugaskan ke Suriah.

Di sisi lain, Tiongkok sendiri juga dikabarkan gencar menguji coba sistem EMALS (Electromagnetic Aircraft Launch Systems) mirip yang tengah dikembangkan AL AS untuk kapal induk kelas Ford.

Satu platform EMALS dikabarkan sudah disiapkan Tiongkok untuk fase uji coba lepas landas, sehingga apabila sistem tersebut sudah mencapai tahap kematangan. Shandongpun akan diretrofit untuk mendapatkan EMALS, yang memungkinkannya untuk melepaskan pesawat tempur dengan muatan penuh.

Sementara itu, Liaoning sendiri baru-baru ini menyelesaikan patroli di Laut Tiongkok Selatan, dimana kapal induk perdana Tiongkok tersebut mengujicoba sistem elektronik dan persenjataannya pada pertengahan Januari 2017.

Upaya Tiongkok untuk unjuk kekuatan tersebut tentu tidak lepas dari sikap Amerika Serikat di bawah administrasi Presiden Trump yang ambil sikap menantang dominasi Tiongkok atas pulau-pulau karang di LTS yang pelan-pelan dibangun dan dipersenjatai

Tiongkok Kebut Pembangunan Kapal Induk Kedua, Siap Konfrontasi di Laut China Selatan?
Loading...

Comments