Review DREAMS: Mimpi Bisa Jadi Nyata!

Games

Updates / Games

Review DREAMS: Mimpi Bisa Jadi Nyata!

Review DREAMS: Mimpi Bisa Jadi Nyata!

KEPONEWS.COM - Review DREAMS: Mimpi Bisa Jadi Nyata! Apa yang membuat mimpi selalu menjadi bagian paling manis dari hidup seorang manusia? Fakta bahwa ia tidak diikat dan dibatasi oleh hukum dan masalah-masalah di dunia nyata sepertinya ialah sala...
Loading...

Apa yang membuat mimpi selalu menjadi bagian paling manis dari hidup seorang manusia? Fakta bahwa ia tidak diikat dan dibatasi oleh hukum dan masalah-masalah di dunia nyata sepertinya ialah salah satu daya tarik utama. Bahwa mimpi merupakan sesuatu yang dibangun dengan memakai leburan antara imajinasi dan harapan, dengan kebebasan untuk membubuhkan kerja keras atau tidak. Dengan belum ada alat pemerhati mimpi yang mungkin Kamu temukan di film-film Doreamon, tidak ada pula yang bisa menghakimi dan menilai seberapa baik atau buruk mimpi Kamu selama Kamu tidak mengutarakannya. Satu hal yang paling fantastis dari mimpi yang di satu sisi juga rasional? Sebuah kepuasan fantastis jikalau dengan satu atau dua cara, Kamu berhasil memenuhinya.

Menciptakan sebuah game yang datang dengan hanya nama DREAMS alias mimpi tentu bukan pekerjaan yang mudah, apalagi jikalau sang developer juga terus mendengungkan bagaimana ia seperti namanya, akan memungkinkan gamer untuk meracik apapun dengannya. Namun proyek ambisius inilah yang sudah dikembangkan oleh Media Molecule selama bertahun-tahun dengan rilis yang akhirnya terjadi hari ini! Untuk memastikan konten yang lebih kaya dan lengkap, mereka bahkan sudah melepas versi Early Access semenjak Mei 2019 yang lalu. Sebuah keputusan yang pantas disambut baik atas nama untuk memastikan jumlah konten yang masif saat rilis final sekaligus memberikan ruang bagi para developer untuk mengasah kemampuan mereka.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh DREAMS? Mengapa kami menyebutnya sebagai game yang bisa menjadikan mimpi sebagai kenyataan? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Kamu!

10 Bulan Kemudian..

Mengingat kami sudah sempat menuliskan impresi di Early Access yang masih menggambarkan game ini dengan sama tepatnya, kami akan lebih berfokus soal apa yang terjadi selama 10 bulan terakhir semenjak Early Access hingga versi final!

Sebelum Kamu galau dengan sub-judul yang kami pilih di atas, kami termasuk gamer yang cukup beruntung untuk sudah menjajal DREAMS semenjak era Early Access di tahun 2019 yang lalu. Kami bahkan sudah menelurkan berita impresi selengkap yang kami bisa untuk memaparkan pengalaman besar seperti apa yang kami dapatkan, yang tentu saja, tidak akan kami ulangi banyak di berita review kali ini. Kami akan berfokus untuk membicarakan ekosistem dan hal-hal apa saja yang menarik untuk dibicarakan dari DREAMS selama 10 bulan terakhir ini, dari sebuah game Early Access menjadi sebuah game rilis penuh.

Untuk membantu Kamu mengingat, apalagi bila Kamu termasuk gamer yang tidak terlalu familiar, DREAMS bukanlah sekedar video game . Ia lebih pantas disebut sebagai game development program dimana ia berisikan seperangkat Tools super keren yang memungkinkan Kamu untuk melakukan nyaris semua hal dengannya. Kamu bisa membangun musik, membangun karakter, meracik dunia, membangun logic yang dihadirkan dalam bentuk nodes-nodes, hingga membangun cut-scene sinematik Kamu sendiri.

Untuk Kamu yang tidak terlalu familiar, DREAMS lebih cocok disebut sebagai Tools daripada video game.

Dengan memakai sistem Nodes yang terikat satu sama lain, ia memungkinkan gamer tanpa skill coding untuk meracik game mereka sendiri selama ada kemauan dan kerja keras.

Yang dilakukan DREAMS ialah memberikan ruang bagi mereka-mereka yang punya banyak ide kreatif, selalu tertarik membangun produk kreatif mereka, namun tidak mempunyai skill yang cukup untuk memahami proses coding yang kompleks. DREAMS menyediakan semua tools yang dibutuhkan, yang bisa dikendalikan dengan DualShock 4 Kamu, dengan sebuah komunitas yang aktif dimana Kamu juga bisa berperan dan berkontribusi untuk sebuah proyek bersama. Semua hal yang ia tawarkan ini membuat DREAMS melewati dan menembus identitas sebagai sekadar sebuah video game saja.

Selama 10 bulan terakhir, beberapa game rampung mengemuka dan terlihat dan terasa keren. Seperti Ruckus sang Godzilla .

Beberapa bahkan muncul dengan beragam tingkat level dan terasa seperti game penuh.

10 bulan kemudian, kami dengan sangat gembira bisa melaporkan bahwa DREAMS tampil semakin memesona. Bahwa dalam rentan waktu yang terhitung singkat ini, ada begitu banyak proyek kolaborasi dalam komunitas yang berhasil melahirkan tidak hanya sekedar prototipe saja, tetapi game yang bisa dimainkan dengan penuh. Kerennya lagi? Beberapa di antara mereka memang seru. Salah satunya Ruckus bahkan meminta Kamu menjadi seekor monster raksasa original bak Godzilla yang datang dengan satu tujuan menghancurkan kota metropolitan di depan mata dengan ukuran, gerakan, dan tentu saja sinar laser yang bisa ia tembakkan. Ada juga proyek game racing fun ala Mario Kart dan CTR yang walaupun tidak mengusung banyak variasi track dan senjata, namun membangun basis untuk sensasi balap yang memesona. Sementara tidak sedikit pula proyek-proyek showcase berbasis engine DREAMS yang berhasil menghasilkan objek dan animasi penuh detail yang siap untuk mengundang 4 jempol yang Kamu miliki.

Satu yang cukup unik ialah masalah lisensi. Seperti yang kita tahu, mengingat DREAMS mengakar pada user-generated-content, Media Molecule mau tidak mau tentu harus secara konsisten mengatur, mengawasi, dan mengorganisasi konten yang diracik komunitas untuk memastikan tidak ada satupun dari mereka yang melanggar aturan (baca: PORNOGRAFI). Untuk urusan ini, mereka sejauh ini melakukan tugas yang begitu fantastis. Pertanyaan besar selanjutnya dari masa Early Access tentu saja berfokus pada masalah lisensi, mengingat ada begitu banyak user DREAMS yang berupaya untuk meracik ulang game-game dari publisher lain yang tentu saja memegang hak atas mereka. Kamu sempat menemukan proyek racik ulang P.T. yang notabene berada di bawah bendera Konami, Sonic di bawah SEGA, hingga Tomb Raider di bawah Square Enix. Secara menakjubkan, lisensi ternyata bukan masalah.

Konten-konten berlisensi semenjak 10 bulan lalu ternyata masih bertahan. DREAMS juga sama sekali tidak diserang kontroversi soal masalah lisensi selama kurun waktu tersebut hingga rilis final saat review ini ditulis. Sebuah kondisi yang menarik.

Hal sama juga terjadi di musik yang bisa Kamu aplikasikan.

Fakta bahwa 10 bulan setelah berita kami terakhir terkait DREAMS, dari masa Early Access hingga versi final di review kali ini, hampir semua game yang kami sebut di atas ternyata masih bertahan dan tersedia di versi final. Bahwa semua proyek yang notabene ialah proses racik ulang yang menyalin atau terinspirasi dari game-game milik publisher lain ini berhasil bertahan, masih bisa dimainkan, dan sejauh ini tidak memicu reaksi perseteruan besar dengan sang pemilik franchise di akun sosial media dan sejenisnya tentu saja pemandangan yang melegakan. Ini berarti banyak pemilik franchise tidak melihat DREAMS sebagai sesuatu yang mengancam . Hal ini tidak hanya terjadi pada jenis game saja, tetapi juga musik yang bisa Kamu aplikasikan di dalamnya. OST berlisensi dari Megalovania hingga Stranger Things tetap bisa Kamu temukan di DREAMS.

Namun sekali lagi, setidaknya impresi inilah yang kami dapatkan dari berita review yang dilepas hanya dalam kurun waktu beberapa hari setelah jadwal rilis resminya. Mengingat lisensi biasanya merupakan subjek diskusi yang bisa saja baru mengemuka setelah proyek eksis untuk waktu yang sangat lama, yang bisa diikuti dengan ragam penyempurnaan hingga ia terasa, terlihat, dan terdengar seperti game originalnya, masalah lisensi di dalam DREAMS ini sangat rentan berubah di masa depan. Tetapi sejauh mata memandang, kesemuanya ini masih terasa seperti game racikan fans dalam kapasitas yang super terbatas.

Tutorial kini diracik ulang untuk memberikan pengalaman yang lebih menyenangkan.

Media Molecule juga menghadirkan beberapa template untuk ragam genre.

Dalam 10 bulan terakhir ini, Media Molecule juga jelas berusaha membenahi DREAMS, setidaknya untuk membuatnya tampil lebih bersahabat di tengah kompleksitas yang ia usung. Upaya untuk menarik lebih banyak gamer agar melahirkan lebih banyak pencipta daripada penikmat muncul dari pembenahan tutorial yang kini jauh lebih bisa dinikmati dan dimengerti dibandingkan versi Early Access. Tutorial kini muncul dalam bentuk desain misi dan instruksi yang lebih jelas untuk diikuti. Kategorisasi soal tema yang bisa Kamu pelajari kini juga lebih rapi. Kerennya lagi? Media Molecule kini juga menyuntikkan beberapa Template game yang bisa langsung dimodifikasi oleh user. Template-template ini sudah mengusung basis mekanik dan logic yang dibutuhkan sesuai genre, hanya tinggal digonta-ganti elemen lainnya saja dari hal kecil seperti karakter dan dunia, hingga simulasi sensasi senjata yang disesuaikan dengan apa yang hendak dikejar user.

Walupun fasilitas VR yang sempat dijanjikan Media Molecule masih belum tiba di hari rilis ini, namun mereka akhirnya memenuhi janji untuk menyuntkkan mode single-player bernama Art s Dream yang berusaha menghadirkan sebuah cerita personal yang menyentuh. Namun di dasar, Art s Dream merupakan sebuah showcase mumpuni yang ditawarkan Media Molecule untuk memperlihatkan hal seperti apa yang bisa dicapai DREAMS dalam kapasitasnya yang optimal.

Tags: dreams, dreams universe, media molecule, playstation 4, playstation 4 pro, review, Sony

Comments