Rapid Test COVID-19, Langkah Anggota DPR 'Menjadi' Pangeran Charles

Spots & Destinasi

Travel / Spots & Destinasi

Rapid Test COVID-19, Langkah Anggota DPR 'Menjadi' Pangeran Charles

Rapid Test COVID-19, Langkah Anggota DPR 'Menjadi' Pangeran Charles

KEPONEWS.COM - Rapid Test COVID-19, Langkah Anggota DPR 'Menjadi' Pangeran Charles Polemik terkait pelaksanaan rapid test COVID-19 bagi anggota DPR plus keluarganya sempat menjadi isu hangat di tanah air. Sejatinya, tes anggota dewan ini akan digelar hari ini, Kamis 26 Maret 2020, n...

Polemik terkait pelaksanaan rapid test COVID-19 bagi anggota DPR plus keluarganya sempat menjadi isu hangat di tanah air. Sejatinya, tes anggota dewan ini akan digelar hari ini, Kamis 26 Maret 2020, namun kabarnya harus diundur. Tampaknya, para anggota dewan pantas berkaca dengan tes COVID-19 Pangeran Charles di Inggris Raya.

Hubungannya apa? Karena sama-sama menyuguhkan polemik. Meski rakyat Inggris pantas berduka dengan kabar Pangeran Charles positif COVID-19, namun ada hal yang menjadi pergunjingan di Inggris. Tak lain, tak bukan soal adanya perlakuan khusus. Padahal ini soal hidup dan mati yang tentu tak akan 'pandang bulu'.

Kontroversi muncul setelah seorang staf National Health Service (NHS), sebuah program layanan kesehatan di Inggris Raya, mempertanyakan kenapa Pangeran Charles tiba-tiba menjalani tes. Bahkan saat para staf dari NHS sendiri belum mendapatkan kesempatan untuk menjalani tes COVID-19. Kata lainnya, ada perlakuan khusus.

Pertanyaan bernada 'komplain' staf NHS ini memaksa Menteri Kesehatan Inggris, Edward Argar, memberikan klarifikasi. Meski dianggap tidak nyambung. Menurut sang Menkes, Pangeran Charles tidak menyerobot antrean karena putra mahkota Inggris tersebut sebelumnya mengalami gejala ringan terpapar virus COVID-19.

Tak nyambung karena jawaban menteri kesehatan Inggris tersebut langsung dimentahkan dengan fakta bahwa banyak staf NHS punya gejala lebih parah namun tak kunjung mendapat kesempatan melakukan tes COVID-19. Apalagi warga biasanya tentunya.

"Kenapa Pangeran Charles menjalani tes di saat bersamaan pekerja terdepan yang punya tugas menyelamatkan kami, belum bisa menjalani tes?" kata lantang presenter Sky News, Kay Burley, dalam konferensi pers yang digelar menteri kesehatan Inggris. Pertanyaan yang juga membuat keduanya bersitegang. Jurnalisnya hebat juga!

Sang presenter terus 'menantang' sang menteri untuk memberikan jawaban. Menkes Edward Argar kelabakan. Jawaban seadanya terlontar dari mulut sang menteri. Ia menegaskan tidak ada perlakuan khusus atau karena faktor status pangeran yang disandangnya sehingga bisa menyerobot antrean bahkan menyalip para tenaga medis.

Jawaban sang menteri kesehatan semakin serampangan alias tak nyambung. "Pemahaman saya ialah bahwa gejalanya, kondisinya (Pangeran Charles), telah memenuhi kriteria," kata Edward Argar. "Pokoknya Pangeran tidak melompati antrean, kami akan fokus untuk tes tim medis sebagai garda terdepan," tambahnya.

BBC Indonesia

Belarus Satu-satunya Negara Eropa Tak Cemas Corona, Santai 'Puool'

Pemakaman Ibunda Presiden Joko Widodo, Sujiatmi Notomiharjo

Update Kasus Corona Hingga Foto Jokowi Antar Ibunda ke Liang Lahat

Infografis COVID-19 per 26 Maret 2020

10 Provinsi dengan Pasien Terinfeksi Corona Terbanyak di Indonesia

Bek Inter Milan, Diego Godin

Usai Juventus, Giliran Inter Milan yang Ditinggal Mudik Pemain

Penumpang Berdesakan di Bandara Sydney, Social Distancing Gagal

Korban Virus Corona di China.

Stress berat COVID-19, China Besok Terapkan Kebijakan 'Bersih' Orang Asing

Anggota DPR Bak Pangeran Charles

Nah, kalau sosok sekelas Pangeran Charles yang merupakan pewaris tahta kerajaan dan begitu sangat dikagumi di seantero Britania Raya saja tetap bisa 'digoyang', apalagi anggota DPR RI. Dan kenapa tidak memprioritaskan tim medis dokter dan perawat yang menjadi garda terdepan dan paling terancam. Wajar bila muncul banyak kritikan.

"Batalkan tes untuk anggota DPR dan keluarga. Prioritaskan para dokter, tenaga kesehatan (nakes), ODP (orang dalam pemantauan), PDP (pasien dalam pengawasan). Pliis," kata cendekiawan Muslim, Ulil Abshar Abdalla di akun twitter.

Suasana Rapat Paripurna Penutupan Masa Sidang di Komplek Parlemen DPR/MPR RI.

Dan wajar juga jikalau aktivis perempuan pegiat hak asasi manusia (HAM), Veronica Koman, memuntahkan kekesalannya. "Memprioritaskan semua anggota DPR dan keluarganya dites gratis ketika rakyat yang sakit saja sulit dites sangatlah tidak peka. Kebijakan ini cerminan dari kultur KKN yang memang menjangkiti DPR."

Terlepas dalih yang kemudian muncul bahwa dana tes anggota DPR RI dari hasil patungan, yang jelas sangat wajar jikalau masyarakat saat ini menganggap rencana rapid tes para anggota dewan dan keluarganya sebagai bentuk nyata cari selamat tanpa mempedulikan para pemilihnya.

Comments