Penderita HIV/AIDS di Indonesia Makin Tinggi, Tapi Bukan dari Kalangan Pekerja Seks

Kesehatan

Life & Style / Kesehatan

Penderita HIV/AIDS di Indonesia Makin Tinggi, Tapi Bukan dari Kalangan Pekerja Seks

Penderita HIV/AIDS di Indonesia Makin Tinggi, Tapi Bukan dari Kalangan Pekerja Seks

KEPONEWS.COM - Penderita HIV/AIDS di Indonesia Makin Tinggi, Tapi Bukan dari Kalangan Pekerja Seks HIV merupakan jenis virus (Human Immunodeficienty Virus) yang bisa menyerang pada kekebalan tubuh manusia. Virus ini bisa menyerang T cell, merupakan salah satu jenis darah putih yang memproduksi anti...
Loading...

HIV merupakan jenis virus (Human Immunodeficienty Virus) yang bisa menyerang pada kekebalan tubuh manusia. Virus ini bisa menyerang T cell, merupakan salah satu jenis darah putih yang memproduksi antibodi dan menyerang pathogen di dalam tubuh.

Apabila T cell rusak, tubuh akan kehilangan kemampuan antibody untuk menyerang zat asing yang masuk ke dalam tubuh termasuk virus dan penyakit. HIV berbeda dengan AIDS, merupakan kondisi yang timbul karena rusaknya system pertahanan tubuh karena virus HIV.

Sehingga orang yang terkena AIDS merupakan orang yang terserang virus HIV, namun sementara orang yang mempunyai HIV tidak selalu berakhir dengan AIDS.

2 Resep Hidangan Serba Anggur, Cocok Buat Manjakan Lidah di Akhir Pekan!

Menurut Dr. Adiyana Esti, Doktor dari Angsamerah mengatakan, Rentang waktu HIV berubah menjadi AIDS sangat relatif, tergantung treatment dan kecepatan penanganannya. Harapan hidup orang yang terinfeksi HIV bisa selayaknya orang normal apabila ditangani dan mendapat pengobatan yang tepat, saat memberikan keterangan kepada Okezone, Sabtu (20/4/2019).

Sementara terkait dengan AIDS, jumlah kumulatif AIDS yang dilaporkan menurut jenis pekerjaan sampai dengan Juni 2016 menunjukkan Ibu Rumah Tangga justru paling banyak hidup dengan AIDS ( 11.655 orang), wiraswasta (10.565 orang), karyawan swasta (10.488 orang), dan pekerja seks justru cenderung lebih rendah hanya ( 2.818 orang).

Bisakah HIV/AIDS dapat disembuhkan? Sampai saat ini vaksin untuk mengobati HIV/AIDS memang belum ada, namun virus ini bisa dihambat dengan ARV (Antiretroviral). Dimana ARV ialah obat yang digunakan untuk menghambat aktivitas virus HIV agar tubuh ODHA (Orang Dengan HIV/ AIDS) mempunyai kesempatan untuk membangun sistem kekebalan.

Bila sistem kekebalan tubuh ODHA baik, maka bisa untuk melawan infeksi yang datang sehingga mereka mempunyai kualitas hidup yang baik dan harapan hidup yang panjang. Faktanya, HIV tidak akan menular melalui kontak sosial.

Dengan pengobatan yang benar, maka ODHIV bisa mempunyai pasangan dan anak tanpa takut akan menularkan. Tidak ada perlakuan khusus pada ODHIV, namun cuman hanya melakukan perawatan sesuai dengan jenis penyakitnya.

Ternyata ODHIV tertinggi terjadi pada ibu rumah tangga. Ratri Suksma, aktivis perempuan dan HIV memaparkan, bahwa pada bulan Mei 2006 pertama kali di vonis mempunyai penyakit HIV yang ternyata karena dari suaminya yang merupakan mantan pencandu narkoba.

Setelah 2 tahun menikah, ia mengalami KDRT dari suaminya. Akhirnya suaminya mengalami sakit dan harus dirujuk kerumah sakit. Pada saat itu, suaminya harus di rawat dan dokter menyarankan untuk test HIV, ujarnya.

3 Sniper Wanita Legendaris yang Paling Disegani di Dunia

Berbeda dengan Hartini, Aktivis HKSR, IPPI & HIV mengatakan, bahwa setelah meminum ARV justru membuat dirinya menambah berat badan, kemudian nafsu makan pada dirinya semakin meningkat dari sebelumnya, ujarnya.

Dengan pengobatan dan kontrol yang baik dan benar, maka sangat memungkinkan ODHA mempunyai pasangan yang bukan ODHA dan tidak dapat menularkannya. Begitu juga ibu dengan ODHA bisa melahirkan anak yang tidak terinfeksi HIV. Nah, sampai saat ini ARV masih disubsidi oleh Pemerintah, hingga dapat diperoleh secara gratis. Akses ARV pun bisa sampai ke tingkat Puskesmas, ujar Dr Esti.

(dno)

Comments