Pandemi COVID-19 Diklaim Telah 'Bunuh' Film-film Mahal Hollywood

Ekonomi & Bisnis

News / Ekonomi & Bisnis

Pandemi COVID-19 Diklaim Telah 'Bunuh' Film-film Mahal Hollywood

Pandemi COVID-19 Diklaim Telah 'Bunuh' Film-film Mahal Hollywood

KEPONEWS.COM - Pandemi COVID-19 Diklaim Telah 'Bunuh' Film-film Mahal Hollywood Selama tahun 2020, film yang diproduksi dengan anggaran miliaran dolar Amerika Serikat dan dibintangi aktor-aktris papan atas ditumbangkan pandemi Covid-19. Kegagalan selama pandemi itu lebih nyata ke...

Selama tahun 2020, film yang diproduksi dengan anggaran miliaran dolar Amerika Serikat dan dibintangi aktor-aktris papan atas ditumbangkan pandemi Covid-19. Kegagalan selama pandemi itu lebih nyata ketimbang kisah kekalahan di tangan penjahat paling hebat yang pernah tampil di layar lebar.

Sepanjang tahun ini, sebagian besar film blockbuster, atau yang diproduksi dengan ongkos lebih dari Rp1,5 triliun, ditunda.

Film James Bond, No Time To Die, ditunda dua kali. Film laga Mulan yang diproduksi Disney akhirnya dirilis di layanan streaming film.

Sementara itu, nasib film Top Gun: Maverick belum jelas.

Bahkan jadwal tayang film buatan Marvel, Black Widow, yang digadang-gadang akan menjadi pelengkap liburan musim panas, diundur tanpa batas waktu. Studio film itu menunggu segala sesuatu kembali ke kondisi normal. Daniel Craig as James Bond in No Time to DieUniversalPenundaan perilisan film beranggaran besar seperti No Time To Die berdampak besar pada keuangan banak perusahaan bioskop.

Menurut Finn Halligan, kepala kritikus film di majalah Screen International, walau para pahlawan di layar lebar saat ini `tidak bisa menyelamatkan dunia`, mereka masih bisa memberi kesempatan publik untuk menatap layar lebar.

"Kita seperti sedang menghadapi adu melotot," kata Halligan perihal perselisihan antara studio film dan bioskop. "Seseorang harus berkedip."

Tanda kecil pergerakan mata muncul saat baru-baru ini film Wonder Woman 1984 diberitakan akan dirilis secara bersamaan di jaringan bioskop AS dan secara online, pada hari Natal mendatang.

Film yang menampilkan aktris Gal Gadot sebagai pahlawan super di era tahun 1980-an ini menghabiskan anggaran sebesar US$200 juta atau sekitar Rp2,8 triliun.

Awalnya film ini dijadwalkan untuk pertama kali ditayangkan Juni lalu. Namun hingga kini rencana perilisannya telah ditunda dua kali.

"Studio tidak ingin mengorbankan film bernilai miliaran dolar selama pandemi," kata Halligan. "Film-film semacam itu ialah komoditas yang terlalu berharga."

Akan tetapi semakin lama bioskop tutup, pengambilan keputusan di banyak sekali studio film semakin rumit.

Menurut media daring The Hollywood Reporter, film No Time To Die membebani studio film MGM dengan bunga utang sebesar Rp14 miliar setiap bulan. Utang itu, yang awalnya dipinjam untuk membuat film tersebut, tidak dapat dikembalikan hingga agen 007 muncul di layar lebar.

`Titik krisis`

Tahun 2019, sembilan film menghasilkan keuntungan lebih dari US$1 miliar (Rp14 triliun) sehingga masuk kategori box office, antara lain The Lion King, Joker, Avengers: Endgame, dan Captain Marvel.

Pada musim panas tahun 2020, film berjudul Tenet yang disutradarai Christopher Nolan merupakan satu-satunya film berbiaya superbesar yang dirilis di bioskop.

Dengan anggaran US$205 juta (Rp2,8 triliun), film ini meraup profit sekitar US$ 350 juta (Rp4,9 triliun).

"Keuntungan yang dicatatkan film Tenet membuat banyak studio film cemas, meski menurut saya keuntungan sebesar itu tidak terlalu buruk dalam situasi pandemi ini," kata Halligan.

"Pihak studio masih berharap mereka bisa mendapatkan profit, tapi titik krisisnya bukan perihal film blockbuster pada masa depan, tapi keberadaan bioskop itu sendiri.

"Akankah penonton merasa aman untuk kembali menonton film terbaru Marvel di bioskop, atau mereka menunggu di platform Disney+? Dan berapa lama bioskop bisa bertahan dalam situasi ini?" ujar Halligan. Robert Pattinson and John David Washington in TenetWarner BrosSambutan penggemar film terhadap Tenet di atas ekspektasi sejumlah pakar industri perfilman, mengingat waktu peluncurannya di tengah pandemi. Namun Tenet gagal menyamai rekor `box office` tahun 2019.

Bagaimanapun, aktivitas menonton film di bioskop tampaknya akan kembali bergulir di negara-negara di Asia. Film Wonder Woman 1984 akan dirilis di bioskop secara penuh di China, satu pekan sebelum film itu dirilis di AS.

Hingga saat ini, Hollywood berkeras menolak menjadikan Asia, Australia, dan Selandia Baru sebagai lokasi perilisan pertama film besar mereka. Alasannya, mereka khawatir film itu akan jadi korban pembajakan.

Padahal, saat ini banyak bioskop di daerah ini telah kembali beroperasi.

Adapun, China berada di belakang film yang sejauh ini meraup keuntungan terbesar tahun 2020, yaitu film epik perang Hu Guan, The Eight Hundred, wacana sekelompok tentara China yang dikepung oleh tentara Jepang.

Film itu menghasilkan laba sebesar US$468 juta (Rp6,5 triliun).

"2020 merupakan tahun saat China, bukan AS, menjadi pasar film terbesar di dunia. Penghasilan mereka melampaui US$ 1.9 triliun (Rp 26,7 triliun) tahun ini," kata kritikus film Asia, Stevie Wong.

"Dan tanpa film Hollywood, film-film lokal mempunyai peluang lebih besar di bioskop," tambah Wong. Dia merujuk kesuksesan film drama China, My People, My Homeland serta film animasi Jepang, Demon Slayer: Kimetsu No Yaiba.

"Eight Hundred menghasilkan hampir setengah miliar dolar, meski itu tidak bisa dibandingkan dengan keuntungan bioskop di tahun 2019," kata Wong.

"Tapi ada lebih banyak film blockbuster lokal yang muncul, seperti Shock Waves 2 yang menampilkan Andy Lau atau Caught in Timeyang diperankan Daniel Wu, yang akan kembali menarik perhatian penonton."

Lalu lintas film antara AS dan Asia secara historis bersifat satu arah, hanya menguntungkan Hollywood. Namun film Vanguard, kolaborasi terbaru bintang laga veteran Jackie Chan dengan sutradara Stanley Tong, baru saja menjadi film Asia yang meraup kesuksesan besar pada perilisan mereka di Amerika Utara.

Film laga itu terlihat mewah. Film yang yang dibuat di lima negara tersebut, antara lain Inggris, India dan China, diputar di 1500 layar bioskop, menggantikan film Bond yang tertunda, No Time to Die.

"Baru sekitar delapan minggu lalu kami memperoleh film itu," kata Nolan Gallagher, CEO Gravitas Ventures. "Kami bergerak cepat."

Gallagher yakin, saat bioskop dibuka, penonton keinginan penonton menyaksikan layar lebar membuncah.

"Ada pasar untuk film blockbuster. Ya, yang muncul sekarang memang hanya sebagian kecil dari yang bergulir sebelum pandemi, tapi daya tarik film seperti itu masih tetap ada," katanya.

"Orang-orang mencari kesenangan selama liburan Thanksgiving, terutama bila Kamu mencari sesuatu yang mempunyai pengalaman aksi mengelilingi dunia."

Bioskop-bioskop yang hiruk-pikuk di Asia juga memberikan harapan kepada Hollywood, kata Mark Gill, Presiden Solstice Studios, yang berbasis di Los Angeles.

Perusahaan film independen yang dipimpin Gill itu baru saja membeli hak untuk film action-thriller The Plane yang dibintangi Gerard Butler.

Film itu akan mulai diproduksi tahun 2021 dan akan dirilis di bioskop setahun setelahnya.

"China, Jepang, dan Korea tahun ini telah menunjukkan kepada kami bahwa kebiasaan menonton film tidak berubah," kata Gill.

"Film Demon Slayer, yang sangat populer di Jepang, belum tentu film tercanggih yang pernah ada, tapi jelas ada tuntutan yang terpendam agar penonton bisa pergi lagi ke bioskop.

"Menurut saya itu menunjukkan bahwa satu film blockbuster yang bagus bisa jadi titik kritis yang nyata, jikalau kondisinya tepat."

Solstice ialah perusahaan pertama yang merilis film baru di bioskop AS setelah gelombang pertama pandemi.

"Kami memutuskan terjun ke usaha film untuk memutar film di bioskop," kata dia. "Harus ada seseorang yang memulainya."

Film yang mereka putar pada pandemi ini ialah film thriller psikologi berjudul Unhinged, yang dibintangi Russell Crowe.

"Tentu saja, keuntungan kurang dari biasanya, tapi tetap berdampak positif. Hollywood takjub bahwa kami berhasil. Capaian itu membantu kami mendapatkan lebih banyak film," ujar Gill.

Rencana merilis Wonder Woman 1984 pertama kali di Asia, Eropa dan Afrika ketimbang AS mungkin menunjukkan bahwa Hollywood menyadari pasar Asia blockbuster yang tumbuh besar di benua ini.

"Ini satu lagi tantangan untuk taktik Hollywood," kata Steven Gaydos, editor eksekutif majalah Variety.

"Asia mempunyai industri film yang mandiri, yang membuat film sendiri dan untuk penontonnya sendiri.

"Hollywood secara historis mengandalkan bioskop di seluruh dunia untuk mendapatkan 65% keuntungan mereka. Jikalau Asia mempunyai industri film yang mandiri, mereka tidak lagi membutuhkan film Hollywood.

"Itu pukulan besar untuk Hollywood," kata Gaydos. Film poster promoting Mulan in BeijingReutersMulan dibuat untuk menarik penonton film di China, tapi mendapat ulasan negatif ketika dirilis di bioskop, September lalu.

Namun Gaydos yakin bahwa film blockbuster dengan anggaran raksasa merupakan satu dari sedikit film yang mempunyai masa depan di Hollywood, dengan anggaran tidak mungkin dipotong di atas.

"Film blockbuster tidak akan berhasil," ujarnya.

"Hollywood hanya membuat film kategori ini. Film jenis ini menyumbang 95?ri seluruh keuntungan. Banyak studio film yang membuat film mahal mempertaruhkan masa depan pada kesuksesan yang berkelanjutan.

"Film-film besar dan mahal ini sebenarnya pertaruhan yang lebih baik daripada film-film yang lebih murah, karena bisa menjual nilai produksi yang spektakuler dan aktor-aktris kawakan. Itulah daya tarik bawaan.

"Namun semua film independen dan drama, yang berisiko atau tidak menjamin keuntungan, sudah beralih ke layanan streaming," kata Gaydos.

Tampaknya layanan streaming tidak mungkin berhenti di situ, terutama kalau merujuk laporan bahwa pembuat film No Time to Die baru-baru ini gagal mencapai kesepakatan untuk menayangkan film mereka di stasiun TV hiburan berbasis kabel. Leonardo DiCaprioEPADiCaprio, yang memenangkan aktor terbaik di ajang Oscar dan Bafta tahun 2016, dianggap salah satu aktor terbaik Hollywood.

Netflix baru saja mengumumkan bahwa film Don`t Look Up, komedi luar angkasa yang dibintangi Jennifer Lawrence dan Leonardo DiCaprio sedang mereka produksi. Film itu akan tayang perdana di software mere

"Sebelum pandemi Covid-19, di ada sebuah ruangan di Hollywood yang terbakar," kata Gaydos. "Dan pandemi ini telah menuangkan bensin ke seluruh `rumah`.

"Saya tidak menyangka akan terbangun dan membaca bahwa film yang dibintangi Leo DiCaprio, salah satu nama besar di Hollywood yang bisa meluncurkan karya di bioskop, akan tayang perdana di Netflix."

Jikalau Wonder Woman 1984 sukses di bioskop dan para akademisi sukses mengembangkan vaksin Covid-19, masa depan film blockbuster layar lebar tradisional bisa terselamatkan.

Tapi Finn Halligan mengingatkan bahwa studio film harus mengambil kebijakan tegas, terutama karena banyak bioskop mengalami kesulitan keuangan.

"Perusahaan film harus ingat, jikalau ingin meraih keuntungan miliaran dolar itu, mereka membutuhkan banyak layar bioskop untuk menayangkan film mereka."

Film Vanguard saat ini tengah dirilis di bioskop-bioskop di seluruh AS.

Comments