Oktober: Ibu Bunuh Bayinya dan Kaitannya dengan Masalah Kejiwaan

Kesehatan

Life & Style / Kesehatan

Oktober: Ibu Bunuh Bayinya dan Kaitannya dengan Masalah Kejiwaan

Oktober: Ibu Bunuh Bayinya dan Kaitannya dengan Masalah Kejiwaan

KEPONEWS.COM - Oktober: Ibu Bunuh Bayinya dan Kaitannya dengan Masalah Kejiwaan Jakarta, Oktober 2016 lalu seorang ibu di Tangerang dilaporkan tega membunuh anak keduanya yang masih berumur 1 tahun. Bahkan setelah dibunuh, tubuh si bayi juga dimutilasi menjadi beberapa bagian.Saa...
Loading...
Jakarta, Oktober 2016 lalu seorang ibu di Tangerang dilaporkan tega membunuh anak keduanya yang masih berumur 1 tahun. Bahkan setelah dibunuh, tubuh si bayi juga dimutilasi menjadi beberapa bagian.

Saat dipergoki suami dan warga sekitar, sang ibu diketahui berada dalam kondisi telanjang dan tampak linglung. Kadang tersenyum-senyum sendiri. Kadang geleng-geleng kepala.

Sebelum peristiwa nahas itu, wanita ini dikabarkan kerap terlihat depresi dan sering berbicara sendiri. "Menurut suaminya, istrinya ini lebih pendiam selama satu minggu ini dan kadang bicara sendiri, seperti depresi," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono.

"Tetapi pernah suatu saat, istrinya ini seperti ketakutan, pernah negur suaminya "Kamu nggak takut saya? Kamu nggak takut saya? Tapi suaminya tidak berpikir istrinya depresi," tambahnya.

Selain shock, peristiwa ini tentu menimbulkan tanda tanya di benak masyarakat tentang bagaimana seorang ibu bisa menghabisi nyawa buah hatinya sendiri.

Menanggapi kasus ini, dr Andri SpKJ, FAPM dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera mengatakan ada dua kemungkinan gangguan jiwa yang dialami ibu yang baru melahirkan: depresi berat dan gangguan psikosis.

Oktober: Ibu Bunuh Bayinya dan Kaitannya dengan Masalah KejiwaanFoto: Lokasi mutilasi di Kalideres/Foto: Arief Ikhsanudin
Depresi berat menyebabkan seseorang merasa dirinya tak berguna dan tak berharga. Namun biasanya kondisi ini menyebabkan seseorang ingin bunuh diri, bukannya membunuh orang lain.

"Depresi terjadi karena kurangnya serotonin di otak, membuat orang merasa tidak berguna dan risiko bunuh dirinya besar. Kalaupun muncul keinginan membunuh bayi atau anak, biasanya akan lebih kepada bunuh diri bareng, bukan membunuh atau memutilasi," terang dr Andri seperti diberitakan detikHealth sebelumnya.

Akibatnya, ibu akan merasa tidak mampu mengurus anak namun tidak terpikir untuk melakukan kekerasan, melainkan perasaan ingin membebaskan anak dan dirinya dari keadaan saat ini. Untuk itu muncul keinginan seperti bunuh diri bersama, seperti yang pernah dilakukan seorang ibu lain beberapa waktu sebelumnya.

Sedangkan gangguan psikotik ditandai dengan munculnya halusinasi, delusi atau gejala lain akibat hormon dopamin yang berlebihan dalam otak. Delusi dan halusinasi juga bisa diterjemahkan sebagai penampakan atau bisikan gaib oleh pasien.

Seseorang dengan gangguan ini dikatakan dr Andri lebih berisiko membunuh orang lain, terutama karena bisikan gaib yang didengarnya. "Membunuh bayi demi ilmu hitamnya sempurnalah, atau supaya kaya, macam-macam alasannya tapi intinya ada perilaku tidak normal yang tidak bisa kita terima dengan akal sehat," terangnya.

Baca juga: Ketika Ibu Tega Membunuh Anak, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Oktober: Ibu Bunuh Bayinya dan Kaitannya dengan Masalah KejiwaanPelaku (Foto: Istimewa)
Akan tetapi dr Andri mengatakan gangguan psikotik pada ibu pasca melahirkan tergolong langka. Prevalensinya hanya sekitar 0,1 persen atau satu dari seribu orang.

Kendati begitu, dr Andri mengingatkan, walaupun langka, kondisi ini lebih berbahaya dari depresi sebab mereka berisiko melukai atau melakukan perbuatan kriminal seperti membunuh orang lain. Muncul dugaan bahwa ibu yang membunuh bayinya di Tangerang tersebut mengalami gangguan psikosis, yang dipicu oleh stres selepas melahirkan anak keduanya.

"Psikotik postpartum punya potensi lebih besar melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan norma dan akal sehat. Contohnya seperi menelantarkan anak, melakukan kekerasan pada anak yang baru dilahirkan karena mendapat bisikan suara, misalnya, anak yang di depannya ini bukan anaknya," tutur dr Andri.

Tetapi bukan berarti gangguan jiwa pasca melahirkan tidak bisa diantisipasi. Menurut dr Andri, ada gejala-gejala depresi yang bisa dikenali, bahkan sejak kehamilan.

Beberapa tanda sederhana depresi pada ibu hamil di antaranya tidak tertarik dengan baby shower, sering meremehkan perkembangan bayinya, tidak memiliki kedekatan dengan bayinya atau bahkan menyesali kehamilannya. Gejala lain adalah perubahan perilaku yang meliputi kurang berenergi, ada perubahan waktu tidur dan nafsu makan, serta merasa bersalah, tidak berdaya dan putus asa.

Namun pada beberapa kasus, gejala-gejala ini diperburuk dengan kondisi lingkungan yang kurang mendukung, adanya masalah saat kehamilan, sering perdarahan, atau sering sakit saat hamil.

"Misalnya ketika sudah melahirkan, anaknya mengalami kecacatan, ibu tidak bisa terima dengan keadaannya atau suami jauh, keluarga tidak membantu dan masalah lainnya dapat menyebabkan depresi pasca melahirkan," pungkasnya.

Baca juga: 5 Langkah Cegah Depresi: Istirahat Hingga Jaga Keintiman(lll/vit)

Comments