MSC 2020: Menanggapi Kondisi Geopolitik Yang Telah Berubah

Internasional

News / Internasional

MSC 2020: Menanggapi Kondisi Geopolitik Yang Telah Berubah

MSC 2020: Menanggapi Kondisi Geopolitik Yang Telah Berubah

KEPONEWS.COM - MSC 2020: Menanggapi Kondisi Geopolitik Yang Telah Berubah MSC 2020: Menanggapi Kondisi Geopolitik Yang Telah Berubah Apakah Amerika Serikat tetap akan berdiri di belakang aliansi pertahanan NATO? Apakah negara-negara Eropa perlu menggalang aliansi pertahanan...
Loading...
MSC 2020: Menanggapi Kondisi Geopolitik Yang Telah Berubah

Apakah Amerika Serikat tetap akan berdiri di belakang aliansi pertahanan NATO? Apakah negara-negara Eropa perlu menggalang aliansi pertahanan sendiri? Apakah kondisi dunia makin kritis dengan situasi perubahan iklim ditambah banyak sekali ancaman keamanan karena konflik politik?

Inilah pertanyaan-pertanyaan mendesak yang akan dibahas di Konferensi Keamanan M nchen, MSC 2020, yang berlangsung 14 sampai 16 Februari. Konferensi tahunan ini mempertemukan para kepala negara, menteri-menteri luar negeri dan pertahanan, serta perwakilan dari organisasi usaha dan internasional dari lebih dari 40 negara untuk membahas situasi keamanan global.

Peserta tahun ini antara lain Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, Ketua DPR AS Nancy Pelosi, dan pendiri Facebook Mark Zuckerberg.

Dominasi 'Barat' berakhir?

Prospek keamanan dunia memang terasa makin genting, tulis para penyusun "Munich Security Report , laporan yang dikeluarkan sebagai pengantar konferensi keamanan di M nchen.

Situasi saat ini digambarkan sebagai kondisi yang menunjukkan "ketidakberesan": Apa yang dulu disebut sebagai "nilai-nilai Barat dan dianggap "baik sekarang makin diragukan. Bahkan di dunia Barat sendiri, orientasi dan integritas para pemimpinnya diragukan oleh banyak orang.

Salah satu contohnya merupakan Presiden AS Donald Trump. Pembunuhan Jenderal Iran Qassem Soleimani bulan Januari lalu menunjukkan bahwa Trump siap mengambil risiko konfrontasi militer demi menegaskan kepentingan dan dominasinya di Timur Tengah.

Sementara beberapa kalangan melihat Barat justru sedang mengalami "kebangkitan illiberalisme dan kembalinya nasionalisme. Di lain pihak, banyak negara Barat yang sekarang enggan terlibat dalam konflik kekerasan yang terjadi di luar negeri, sehingga tidak ada lagi yang meredam aksi-aksi kekerasan yang meluas seperti yang terjadi di Afrika atau Timur Tengah belakangan ini.

Perubahan geopolitik

Perubahan kekuatan geopolitik global juga akan mendominasi pembicaraan selama konferensi internasional yang berlangsung di Hotel Bayerischer Hof, M nchen. Sengketa perbatasan di Laut Cina Selatan, konflik perdagangan antara AS dan Cina akan menjadi tema penting, termasuk merebaknya wabah virus corona jenis baru yang juga bisa berkembang menjadi krisis internasional.

Padahal, sebelumnya Cina masih menghadapi kekalutan politik di Hong Kong. Selama berbulan-bulan, pusat finansial terbesar Asia itu dilanda kelumpuhan karena aksi-aksi protes massal.

Fokus penting lain di Asia ialah situasi di Semenanjung Korea. Tahun 2019, Presiden Donald Trump berjabat tangan dengan pempimpin Korea Utara Kim Jong Un untuk meredakan ambisi nuklir negara yang masih terisolasi itu. Tapi "kerukunan itu itdak berlangsung lama. Rezim Korea Utara sekarang menuduh AS gagal menunjukkan fleksibilitas dalam perundingan nuklir dan malah menerapkan hukuman yang "brutal dan tidak manusiawi". Tokoh-tokoh senior dari Korea Utara dan Selatan juga diharapkan muncul akhir minggu ini di M nchen, Jerman. (hp/ae)

Comments