Minim Kesadaran Kanker Payudara, Hanya 4 Persen Rutin SADARI

Kesehatan

Life & Style / Kesehatan

Minim Kesadaran Kanker Payudara, Hanya 4 Persen Rutin SADARI

Minim Kesadaran Kanker Payudara, Hanya 4 Persen Rutin SADARI

KEPONEWS.COM - Minim Kesadaran Kanker Payudara, Hanya 4 Persen Rutin SADARI Kejadian kanker ditemui hampir di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Sebesar 30 persen kanker hadir pada perempuan Indonesia dan 20 persennya alami kematian akibatnya. Prevalensi kanker serviks...

Kejadian kanker ditemui hampir di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Sebesar 30 persen kanker hadir pada perempuan Indonesia dan 20 persennya alami kematian akibatnya.

Prevalensi kanker serviks dan payudara, dua jenis kanker yang paling sering mengintai wanita. Dari data Kemenkes RI, prevalensi kanker payudara tertinggi sebesar 2,4 per 1000 di DI Yogyakarta dan prevalensi kanker serviks tertinggi di DIY, Riau, dan Maluku sebesar 1,5 per 1000 penduduk.

"Riset yang dilakukan Lovepink di tahun lalu pada 1300 responden di seluruh Indonesia, mendapatkan hasil bahwa 50 persennya pernah mendengar deteksi dini kanker payudara yaitu SADARI tapi yang paham mengenai itu hanya 20 persennya saja," ujar Pendiri Lovepink, Shanti Persada, dalam acara Peluncuran Asosiasi Advokasi Kanker Perempuan Indonesia (A2KPI), di Gedung Kemenkes RI, Jakarta, Selasa 27 Maret 2018.

Ilustrasi kanker payudara.

Peran SADARI dalam mencegah kanker payudara, merupakan hal yang seharusnya bisa dijalani. Namun, minimnya sosialisasi terkait hal ini, membuat kaum wanita tidak menyadari pentingnya melakukan pencegahan dini itu.

"Hanya 4 persennya saja yang rutin melakukan SADARI. Padahal, melakukan SADARI sangat penting sebagai bentuk pencegahan. Artinya, kampanye pencegahan dini ini tidak berjalan," paparnya.

Dengan minimnya sosialisasi dan berita untuk pencegahan dini, banyak kaum wanita yang harus menjalani perawatan untuk menyembuhkan kanker payudara yang terlanjur hadir di tubuh. Sayang, fasilitas yang diberikan pemerintah melalui BPJS, belum dibuat secara maksimal.

"Di riset yang sama, banyak pasien yang akhirnya mengaku hanya bertemu dokter dengan waktu terbatas, antrean yang panjang, setiap stepnya harus kembali antre dan pada akhirnya membuat mereka memilih tidak meneruskan pengobatan karena fasilitas yang belum maksimal itu," terang Shanti.

Comments