Menimbun Obat Terapi Covid-19, Direktur dan Komisaris PT ASA jadi Tersangka, Belum Ditahan

Nasional

News / Nasional

Menimbun Obat Terapi Covid-19, Direktur dan Komisaris PT ASA jadi Tersangka, Belum Ditahan

Menimbun Obat Terapi Covid-19, Direktur dan Komisaris PT ASA jadi Tersangka, Belum Ditahan

KEPONEWS.COM - Menimbun Obat Terapi Covid-19, Direktur dan Komisaris PT ASA jadi Tersangka, Belum Ditahan Jumat, 30 Juli 2021 19:25 WIB Wakapolres Metro Jakarta Barat AKBP Bismo Teguh Prakoso saat jumpa pers kasus penimbunan obat di Polres Metro Jakarta Barat, Jumat (30/7/2021). (ANTARA/Walda)...

Jumat, 30 Juli 2021 19:25 WIB

Menimbun Obat Terapi Covid-19, Direktur dan Komisaris PT ASA jadi Tersangka, Belum Ditahan

Wakapolres Metro Jakarta Barat AKBP Bismo Teguh Prakoso saat jumpa pers kasus penimbunan obat di Polres Metro Jakarta Barat, Jumat (30/7/2021). (ANTARA/Walda)

JAKARTA - Direktur PT ASA YP (58), dan Komisaria PT ASA S (56) ditetapkan penyidik Polres Metro Jakarta Barat sebagai terduga tindak pidana penimbunan obat untuk pasien Covid-19

"Kami tetapkan dua terduga pada kasus ini yaitu direktur dan komisaris dari PT ASA," kata Wakil Kepala Polres Metro Jakarta Barat AKBP Bismo Teguh Prakoso di Jakarta, Jumat (30/7).

Kedua petinggi PT ASA yang telah berstatus terduga itu dijerat dengan pasal berlapis.

"Kami jerat dengan UU perdagangan UU perlindungan konsumen dan UU pengendalian wabah penyakit menular. Ancaman hukuman lima tahun penjara," ungkapnya.

Menurut Bismo, kedua terduga terbukti menimbun obat jenis Azithromycine Dehydrate, Flucadex dan beberapa obat lain di sebuah gudang daerah Jakarta Barat.

Bismo mengatakan awalnya PT ASA mendapatkan persediaan obat tersebut semenjak 5 Juni 2021 lalu. Namun, saat beberapa pelanggan meminta obat tersebut, pihak perusahaan kerap berdalih bahwa tidak mempunyai stok.

Alasan yang sama juga dikatakan pihak perusahaan kala melakukan rapat via daring dengan pihak Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

"Dalam zoom meet menanyakan stok obat Covid-19 ini yang selalu dijawab tidak ada dan tidak dilaporkan. Tidak kooperatif dalam pelaporan," ujar Bismo.

BERITA TERKAIT

SPONSORED CONTENT

Comments