Mengapa Gambia, negara di Afrika, ajukan Myanmar ke Mahkamah Internasional dengan tuduhan melakukan genosida

Internasional

News / Internasional

Mengapa Gambia, negara di Afrika, ajukan Myanmar ke Mahkamah Internasional dengan tuduhan melakukan genosida

Mengapa Gambia, negara di Afrika, ajukan Myanmar ke Mahkamah Internasional dengan tuduhan melakukan genosida

KEPONEWS.COM - Mengapa Gambia, negara di Afrika, ajukan Myanmar ke Mahkamah Internasional dengan tuduhan melakukan genosida Myanmar diadili di Mahkamah Internasional di Den Haag dan harus menjawan tuduhan bahwa militer di negara tersebut "melakukan genosida atau pembunuhan besar-besaran" terhadap warga minoritas Muslim Roh...

Myanmar diadili di Mahkamah Internasional di Den Haag dan harus menjawan tuduhan bahwa militer di negara tersebut "melakukan genosida atau pembunuhan besar-besaran" terhadap warga minoritas Muslim Rohingya.

Pemimpin de facto Myanmar dan peraih Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi, menjawab sendiri tuduhan tersebut dalam sidang hari Rabu (11/12).

Ia tidak menyinggung soal kesaksian yang dikutip dari para pengungsi Rohingya.

Tapi, ia menyanggah tuduhan bahwa negaranya melakukan genosida terhadap minoritas Muslim Rohingya, dengan argumen bahwa tak ada bukti niatan genosida di balik tindakan militer Myanmar.

Suu Kyi dan timnya harus terbang ke Den Haag dan menjadi pusat perhatian masyarakat internasional setelah Gambia, negara di Afrika, membawa kasus ini ke Mahkamah Internasional.

"Hari ini Republik Gambia meminta Kamu untuk mendengar tangisan genosida dan tangisan permintaan tolong ini," kata Aboubacarr Tambadou, yang juga menteri kehakiman Gambia, memulai argumennya dengan kata-kata penuh emosi di Mahkamah Internasional atau International Court of Justice (ICJ).

Tuduhan genosida terhadap pemerintahan Myanmar ini mendapat dukungan dari 57 anggota negara organisasi konferensi Islam (OKI) dan satu tim pengacara internasional, tetapi Tambadou inilah yang menjadi motor penggerak utama.

'Hukum bukan hanya untuk negara kaya'

Ribuan minoritas Rohingya dibunuh dan lebih dari 700.000 kabur ke negara tetangga Bangladesh dalam operasi militer tahun 2017 di negara berpenduduk mayoritas Buddha ini.

Menteri Kehakiman Gambia Abubacarr Tambadou di mahkamah internasional 10 Desember 2019Getty Images Abubacarr Tambadou mendesak adanya langkah segera untuk menolong etnis Rohingya.

Langkah tentara Myanmar dan pemimpin de facto mereka Aung San Suu Kyi banyak mendapat kritik. Beberapa bahkan mendesak komite Nobel untuk menarik kembali hadiah yang pernah diberikan kepada Suu Kyi.

Namun negara yang memimpin langkah hukum ini ialah Gambia, negara kecil di Afrika Barat yang terletak lebih dari 11.000 km dari Myanmar.

Comments