Kisah Pasien Positif COVID-19 di Singapura, Tak Pernah Mengira Terinfeksi

Kesehatan

Life & Style / Kesehatan

Kisah Pasien Positif COVID-19 di Singapura, Tak Pernah Mengira Terinfeksi

Kisah Pasien Positif COVID-19 di Singapura, Tak Pernah Mengira Terinfeksi

KEPONEWS.COM - Kisah Pasien Positif COVID-19 di Singapura, Tak Pernah Mengira Terinfeksi Sebagian besar orang mungkin tak pernah menyangka bahwa mereka bisa menjadi salah satu orang yang terinfeksi COVID-19, di tengah pandemi COVID-19 saat ini. Tapi nyatanya, siapapun dan dalam kondisi ap...

Sebagian besar orang mungkin tak pernah menyangka bahwa mereka bisa menjadi salah satu orang yang terinfeksi COVID-19, di tengah pandemi COVID-19 saat ini. Tapi nyatanya, siapapun dan dalam kondisi apapun meski yang tak terduga sekalipun bisa terinfeksi positif COVID-19.

Layaknya pengalaman yang dialami oleh Koh, salah seorang pasien positif COVID-19 di Singapura. Raymond Koh, seorang manager bank OCBC. Menceritakan kisahnya sebagai pasien positf COVID-19, ia mengaku dengan rutinitas biasa yang ia jalani setiap harinya ia tak pernah menyangka akan ikut tertular. Koh sendiri bahkan galau dari mana dirinya tertular.

Saya tidak pernah mengira akan terinfeksi virus ini, karena saya tidak pergi ke tempat-tempat hiburan atau aktivitas apapun selain bekerja. Jadi jangan kira kalian semua aman, semua orang bisa kena virus ini di mana saja, ungkap Raymond.

Raymond disebutkan mulai merasa demam pada 1 Maret 2020 lalu, kemudian esok harinya ia memutuskan untuk berobat ke suatu klinik di daerah Buangkok. Merasa belum membaik, ia kembali berobat ke klinik pada 5 Maret 2020, tapi karena demamnya semakin tinggi pada 8 Maret 2020 sang istri memutuskan untuk membawa Raymond ke klinik lainnya di daerah Punggol.

Awalnya Raymond menyakini demam yang ia alami karena demam berdarah, tapi dokter menemukan ada sesuatu yang tak normal di paru-parunya dan memutuskan untuk membawa Koh dengan ambulans menuju unit gawat darurat rumah sakit Sengkang General Hospital.

Begitu di rumah sakit, ia menjalani sederet pemeriksaan. Siapa sangka, hasil pemeriksaan menunjukkan hasil bahwa ia positif COVID-19. Begitu dinyatakan positif, istri dan putranya langsung menjalani isolasi.

Raymond juga diwawancara oleh tim contact-tracing, untuk menanyakan siapa saja orang-orang yang sempat kontak dekat dengan dirinya dan apa saja aktivitas yang ia lakukan selama tiga pekan terakhir sebelum jatuh sakit.

Mereka tanya dengan siapa saja saya bertemu, apa aktivitas di tiga pekan sebelumnya. Saya bilang, rutinitas saya sama cuma pergi kerja di Raffles Place setiap pagi naik kereta, pergi makan siang di Hong Lim Hawker Centre, lalu pulang malam hari ke rumah naik kereta. Saya tidak bertemu dengan siapapun yang menunjukkan gejala COVID-19, imbuhnya.

Sehari setelah manajer IT bank berusia 47 tahun ini mengetahui bahwa ia telah terinfeksi virus corona, kadar oksigennya mulai turun. Hasil X-Ray menunjukkan bercak di paru-parunya, suhu tubuhnya pun naik turun. Dokter memutuskan Raymond harus segera dibawa ke unit perawatan intensif (ICU).

Pasien COVID-19

Tahu dirinya akan masuk ICU, Raymond langsung merasa sangat ketakutan dan khawatir bahwa dirinya tidak akan selamat dan tidak akan bisa bertemu istri dan anaknya lagi. Ketakutannya bertambah membayangkan dirinya bernasib sama seperti mendiang ayahnya yang menghembuskan nafas terakhirnya di ICU, delapan tahun lalu.

Langsung blank, gugup dan takut sekali. Saya pikir kan hanya orang-orang yang kondisinya kritis yang harus sampai masuk ICU. Terpikir apakah saya bisa bertemu istri lagi. Sesaat sebelum masuk ruang ICU, saya kirim pesan ke istri mengatakan bahwa saya mencintai dia dan anak kami, aku Raymond saat diwawancara The Strait Times kala itu.

Di ruang ICU inilah Raymond merasa ada di titik paling menakutkan di hidupnya. Ia terbaring terikat di ranjang rumah sakit, agar dirinya tidak melepaskan tabung dan selang yang terpasang di hidung, mulut serta tangannya.

Di ICU, ia diberi obat penenang untuk memudahkan prosedur intubasi agar dapat terhubung ke ventilator. Terbangun keesokan harinya, Raymond mendapati ada enam tabung yang terpasang di tubuhnya. Satu di mulut, satu di hidung, satu di leher dan tiga di tangan.

Selama dirawat, Raymond tidak bisa berbicara dan satu-satunya cara berkomunikasi dengan para dokter dan perawat ialah dengan menulis. Raymond diberi kertas dan pena untuk berkomunikasi dengan para dokter dan suster.

Kala itu saya menuliskan pesan, bertanya pada dokter kapan ini semua berakhir. Dokter menjawab, bahwa saya harus tetap positif, lanjut Raymond.

(hel)

Comments