Keren! Nepal 'Sulap' Sampah di Gunung Everest Jadi Karya Seni

Spots & Destinasi

Travel / Spots & Destinasi

Keren! Nepal 'Sulap' Sampah di Gunung Everest Jadi Karya Seni

Keren! Nepal 'Sulap' Sampah di Gunung Everest Jadi Karya Seni

KEPONEWS.COM - Keren! Nepal 'Sulap' Sampah di Gunung Everest Jadi Karya Seni GUNUNG Everest tak dipungkiri menyandang predikat sebagai 'tempat pembuangan sampah' tertinggi di dunia semenjak lama. Meski begitu, sebagian besar volume sampah yang ditinggalkan para pendaki setiap...

GUNUNG Everest tak dipungkiri menyandang predikat sebagai 'tempat pembuangan sampah' tertinggi di dunia semenjak lama. Meski begitu, sebagian besar volume sampah yang ditinggalkan para pendaki setiap tahunnya setidaknya dapat dimanfaatkan dengan baik.

Hal itulah yang mendorong Nepal untuk membuka galeri yang menampilkan karya seni dari tumpukan sampah yang ternyata diambil dari Gunung Everest.

Menukil laman The Independent, galeri itu nantinya akan bertempat di Sagarmatha Next Center, dan akan menyoroti masalah sampah yang tertinggal di Gunung Everest.

Galeri seni tersebut berada di ketinggian 3.780 meter di Syangboche, tepatnya jalur menuju base camp Everest. Bisa dijangkau dengan dua hari berjalan kaki dari Lukla, pintu gerbang ke Gunung.

Glamping Seru Sambil Ngasih Makan Burung, Bisa Kok!

Lebih dari 600 orang berusaha untuk mencapai puncak Gunung Everest setiap tahunnya dan setiap pendaki membuang rata-rata 8 kilogram sampah yang biasanya terdiri dari tabung oksigen, tenda, tempat makanan, bahkan ada yang membuang kotoran manusia. Itu artinya, hampir 5 ton sampah di setiap musim pendakian, sekitar bulan Maret hingga Mei.

Sampah di Everest

(Foto: Reuters)

Para seniman yang terlibat akan memakai sebagian dari sampah ini untuk membuat potongan-potongan seni, termasuk botol oksigen, tenda yang robek, tali, tangga rusak, kaleng, dan pembungkus plastik.

"Kami ingin menunjukkan bagaimana Kamu dapat mengubah limbah padat menjadi karya seni yang berharga dan menghasilkan lapangan kerja dan pemasukan," ujar direktur proyek sekaligus salah satu pendiri Sagarmatha Next Center, Tommy Gustafsson kepada Reuters.

Misteri Sinyal SOS di Pulau Laki, Kapten Vincent Raditya Angkat Bicara

Gustafsson berharap, tindakannya ini dapat mengubah persepsi masyarakat perihal sampah dan cara mengelolanya.

Seniman nantinya akan bekerja sama dengan penduduk setempat untuk mengajari cara membuat karya seni mereka sendiri dari sampah.

Untuk soft opening galeri ini bakal dihelat pada musim semi untuk penduduk setempat. Galeri ini bertujuan meningkatkan kesadaran akan masalah lingkungan yang disebabkan oleh pembuangan limbah di Gunung Everest dan untuk mengumpulkan uang guna konservasi lokal melalui penjualan souvenir.

Comments