Keraguan Menjelang Hari Pernikahan: Diabaikan atau Diikuti?

Kesehatan

Life & Style / Kesehatan

Keraguan Menjelang Hari Pernikahan: Diabaikan atau Diikuti?

Keraguan Menjelang Hari Pernikahan: Diabaikan atau Diikuti?

KEPONEWS.COM - Keraguan Menjelang Hari Pernikahan: Diabaikan atau Diikuti? (Depositphotos) Anggia menyebutkan, pernikahan berkaitan dengan 3 keyakinan. Keyakinan kepada Tuhan, keyakinan kepada pasangan, dan keyakinan kepada diri sendiri. Ada kelemahan pada satu keyakinan it...
Loading...
(Depositphotos)

(Depositphotos)

Anggia menyebutkan, pernikahan berkaitan dengan 3 keyakinan. Keyakinan kepada Tuhan, keyakinan kepada pasangan, dan keyakinan kepada diri sendiri. Ada kelemahan pada satu keyakinan itu, di situlah muncul keraguan. Perlu menjadi catatan khusus, poin-poin ini berlaku dalam konteks pernikahan yang dilakukan orang dewasa, yang tanpa paksaan, perjodohan, atau kecelakaan .

Keyakinan kepada Tuhan

Hal ini dipupuk semenjak usia dini. Oleh orangtua, lingkungan, sekolah, dan kematangan intelektual spiritual. Dalam hal pernikahan (dan juga hal lainnya), keyakinan kepada Tuhan sangat berpengaruh kuat. Antara lain meyakini pernikahan ialah ibadah, pernikahan merupakan pintu keberkahan, dan juga pintu rezeki. Nilai-nilai itu akan memudahkan seseorang untuk yakin menuju pernikahan. Juga termasuk meyakini bahwa orang yang akan dinikahi ialah pilihan Tuhan. Jodoh yang telah disiapkan Tuhan untuk kita.

Manfaatnya: mempunyai keyakinan ini sedikit mengurangi kekecewaan yang akan atau sudah muncul kepada calon suami/istri kita. Baik-buruknya pasangan, bagaimana pun sudah menjadi pilihan kita.

Keyakinan kepada pasangan

Bisa dikatakan ini hal yang utama dan prinsip. Kita harus yakin pasangan yang akan dinikahi merupakan seseorang yang takut pada Tuhan dan cinta pada pasangannya (kita). Jikalau pasangan takut pada Tuhan, apa pun yang terjadi, dia tidak akan melanggar perintah Tuhan (poin pertama). Sedangkan cinta kepada pasangan, menitikberatkan pada kesadaran bahwa kita sama seperti dirinya. Sama-sama jauh dari tepat. Sehingga masing-masing yakin pasangan mencintai kita untuk hal terburuk sekalipun, apakah itu datang sebelum atau kelak sesudah menikah.

Manfaatnya: dengan kesadaran penuh, kita siap menjalani segalanya yang akan terjadi bersamanya, baik atau buruk, manis atau pahit.

Keyakinan kepada diri sendiri

Hal ini berkaitan langsung dengan kedewasaan. Bagaimana kita memahami diri dan dari mana kita berasal (keluarga apa, seperti apa, dengan masa lalu bagaimana). Juga keyakinan kita merupakan pribadi yang sehat, yang menjalani pernikahan dengan niat ibadah.

Manfaatnya: membuat kita tahu wacana apa yang diinginkan dan apa yang dibutuhkan, baik dari pasangan maupun diri sendiri.

Jadi, ketika keraguan menghampiri, lakukan pemikiran dan pertimbangan berdasarkan tiga keyakinan itu. Semakin kuat keyakinan akan ketiga hal itu, menjadi bekal bagi yang menuju pernikahan, kata Anggia yang juga aktif sebagai terapis dan konselor di lembaga konsultasi psikologi Westaria, Bandung. Lantas, ketika hasilnya negatif dan Kamu memilih untuk mengikuti keraguan ? Keputusan apa pun dalam kehidupan, paling salah, kalau keputusan itu karena orang lain. Kalau berdasarkan tiga poin di atas ditemukan keraguan yang sifatnya prinsipiel, batalkan saja. Karena yang akan merasakan dampak baik-buruknya, merupakan kita sendiri, imbuhnya. Malu? Manusiawi. Apalagi mungkin sudah ada pengeluaran dan pengumuman. Tetapi yakinlah, seperti pernikahan yang dilakukan, pembatalan yang dilakukan pun, seberapa lama sih orang lain akan mengingatnya?

Rekomendasi

Comments