Kenali Gejala Distimia, Depresi Kronis yang Sering Tidak Disadari

Kesehatan

Life & Style / Kesehatan

Kenali Gejala Distimia, Depresi Kronis yang Sering Tidak Disadari

Kenali Gejala Distimia, Depresi Kronis yang Sering Tidak Disadari

KEPONEWS.COM - Kenali Gejala Distimia, Depresi Kronis yang Sering Tidak Disadari Beberapa waktu belakangan semakin banyak orang yang menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental. Bahkan mereka berusaha mencegah agar jangan sampai mengalami depresi. Caranya bisa dengan mengelola s...
Loading...

Beberapa waktu belakangan semakin banyak orang yang menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental. Bahkan mereka berusaha mencegah agar jangan sampai mengalami depresi. Caranya bisa dengan mengelola stres, liburan untuk melepaskan penat, melakukan hal-hal yang disenangi, dan masih banyak lagi.

Namun sebenarnya, ada kemungkinan setiap orang mengalami depresi yang tidak disadari. Salah satunya ialah distimia atau gangguan depresi persisten yang merupakan bentuk depresi kronis jangka panjang.

Orang yang mengalaminya mungkin kehilangan minat dalam aktivitas normal sehari-hari, merasa putus asa, kurang produktivitas, kelelahan, putus asa, sulit mengambil keputusan, menghindari kegiatan sosial, mudah marah, perasaan bersalah atau khawatir terhadap masa lalu, dan mempunyai harga diri rendah serta perasaan tidak bisa secara keseluruhan.

pria stres

Gejala distimia biasanya datang dan pergi alias kadang ada, kadang tidak. Gejalanya bisa hilang sama sekali dalam waktu dua bulan, namun kemudian berulang lagi dan begitu seterusnya. Kondisi ini bisa berlangsung selama bertahun-tahun dan secara signifikan dapat mengganggu hubungan, sekolah, pekerjaan, serta kegiatan sehari-hari lainnya.

Seseorang yang mempunyai distimia bisa mengalami kesulitan untuk merasa ceria bahkan pada saat-saat bahagia. Tak jarang hal itu membuat orang lain berpikir dirinya mempunyai kepribadian yang suram, senang mengeluh terus-menerus, dan tidak bisa bersenang-senang. Bila dilihat, kondisi ini memang tidak separah depresi berat, tapi untuk mengatasi gejalanya bisa menjadi tantangan karena membutuhkan kombinasi terapi bicara (psikoterapi) dan obat-obatan.

Comments