Kematian Hanyalah Ilusi? Ilmuwan Ungkap Manusia Tidak Akan Benar-benar Mati

Unik

Ragam / Unik

Kematian Hanyalah Ilusi? Ilmuwan Ungkap Manusia Tidak Akan Benar-benar Mati

Kematian Hanyalah Ilusi? Ilmuwan Ungkap Manusia Tidak Akan Benar-benar Mati

KEPONEWS.COM - Kematian Hanyalah Ilusi? Ilmuwan Ungkap Manusia Tidak Akan Benar-benar Mati Chris Ford Kehilangan orang terdekat ialah sedih bagi semua orang. Namun, pernahkah terlintas dalam benak Kamu, bagaimana jikalau mereka tidak benar-benar mati? Seorang ilmuwan terkemuka mengatakan b...
Loading...

Chris Ford

Kehilangan orang terdekat ialah sedih bagi semua orang. Namun, pernahkah terlintas dalam benak Kamu, bagaimana jikalau mereka tidak benar-benar mati?

Seorang ilmuwan terkemuka mengatakan bahwa kematian fisik manusia itu bukan akhir dari kehidupan. Sementara itu, spesialis bedah saraf terkenal menegaskan bahwa ada kehidupan setelah kematian dengan pengalamannya menjelang ajal.

Orang-orang Timur percaya bahwa manusia tidak hanya hidup sekali. Pandangan ini telah mulai menyebar luas di komunitas ilmiah. Benarkah kematian itu hanya ilusi?

Mari kita simak penjelasannya ini lebih mendalam

Dr. Robert Lanza pernah terpilih sebagai salah satu dari 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia di majalah TIME tahun 2104 lalu. Menurutnya kematian hanyalah ilusi, bukan kenyataan.

Lanza ialah ketua Astellas Global Regenerative Medicine, sekaligus kepala ilmuwan dari Astellas Institute for Regenerative Medicine, dan merangkap professor di Wake Forest University Medical School.

Dr. Robert Lanza (Alex Wong/Getty Images)

Dia mengatakan, meski tubuh hancur secara fisik pada saat kematian, kita masih masih ada. Meskipun tubuh individu itu pasti akan hancur, tetapi perasaan masih hidup Siapa aku? masih aktif bekerja di otak seperti air mancur dengan 20 watt energi.

Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa energi ini akan hilang setelah kematian.

Tetapi Lanza menekankan bahwa hukum alam semesta merupakan konservasi energi. Energi ini tidak hilang seiring dengan kematian. Salah satu aksioma sains yang paling dapat dipercaya ialah bahwa energi tidak pernah mati Dia melanjutkan dengan mengatakan,

Apakah energi ini akan menembus dari satu dunia ke dunia lain?

Lanza telah menulis lebih dari 30 buku dan menerbitkan ratusan berita ilmiah, Ia mengusulkan teori ilmiah baru yang disebut Biosentrisme, multiverse dan many-worlds .

Teorinya mirip dengan alam semesta paralel . Ada banyak alam semesta di mana sesuatu dapat terjadi di alam semesta. Di bawah keadaan ini, kematian tidak benar-benar ada, demikian tulisnya.

Jadi, apakah ini berarti bahwa pengalaman menjelang ajal yang dialami oleh banyak orang mungkin benar-benar ada? Mungkin kesadaran Siapa aku? Ialah apa yang disebut jiwa ? demikian penjelasan dari pengalaman menjelang ajal yang dialami spesialis bedah saraf terkenal, Robert Lanza.

Kisah Perjalanan ke surga spesialis bedah syaraf

Setiap orang punya pengalaman spiritual tersendiri terhadap Tuhan. Seperti yang dialami spesialis bedah syaraf sekaligus dosen di Harvard Medical School, Amerika Serikat, Dr Eben Alexander. Dirinya mengakui pernah mengalami perjalanan menuju surga.

Hal tersebut dialaminya ketika ia terbaring koma selama sepekan, pada musim gugur 2008 silam, karena terjangkit penyakit meningitis. Berdasarkan ilmu medis yang ada saat ini, tidak mungkin memaparkan apa yang saya alami selama saya koma, ujar Alexander.

Alexander dalam keadaan koma ketika keluarga membawanya ke rumah sakit. Menurut diagnosis, meningitis bakteri telah menggerogoti segenap otaknya. Dokter memberi tahu istrinya bahwa peralatan medis sama sekali tidak dapat mendeteksi aktivitas otaknya, dan peluangnya untuk bertahan hidup hanya 2 persen. Namun, tak disangka, dan secara ajaib Alexander siuman seminggu kemudian.

Sebagai seorang ilmuwan, dia tidak pernah berpikir bahwa masih ada dunia lain di dunia. Dia dengan sadar memasuki dunia lain selama koma, dan secara pribadi mengalami apa yang dia sebut ilusi dan fantasi .

Menurut Alexander, awalnya ia melihat dirinya melayang di atas awan merasakan bergerak menempuh perjalanan ke sebuah kekosongan besar, gelap, tidak terbatas. Namun sangat teduh dan menenangkan. Ia yakin, ruang kosong yang ia rasakan merupakan rumah Tuhan.

Alexander menghadiri KTT Kesehatan di New York pada tahun 2018 (Bryan Bedder/Getty Images for Goop)

Menurut Alexander, awalnya ia melihat dirinya melayang di atas awan, sebelum melihat sesosok menyerupai manusia berkilauan di langit. Ia merasa tengah dikawal oleh seorang wanita yang berkomunikasi dengannya, memakai bahasa yang ia tidak pernah dengar sebelumnya. Namun, saat itu ia mengerti sepenuhnya apa yang dikatakan makhluk itu.

Kamu sangat berharga dan dicintai, selamanya. Kamu tidak usah takut, kamu tidak berbuat salah, kata wanita itu kepadanya.

Setelah sadar dari komanya, Alexander mengaku sungkan menceritakan pengalamannya kepada rekan-rekannya.

Putranya yang tertua mengatakan bahwa setelah siuman, pikiran ayahnya jauh lebih jernih, lebih terkonsentrasi, lebih fokus daripada sebelumnya, dari dalam tubuhnya seakan memancarkan cahaya yang bersinar.

Ia mendapatkan kembali keyakinannya pada Tuhan

Eben Alexander tumbuh dalam keluarga asuh. Ayah angkatnya juga spesialis bedah saraf yang terkenal.

Beberapa bulan setelah siuman, ia mendapatkan email dari saudara perempuannya, Kathy, di dalamnya terlampir foto mendiang adik perempuannya, Betsy. Melihat fotonya, dia langsung mengenalinya, itu ialah peri di dunia lain yang dilihatnya ketika koma.

Ini benar-benar mengejutkan, katanya. Aku tidak bisa menggambarkan betapa kuatnya pengalaman ini, dan tidak salah, itu ialah dia.

Dia juga mengetahui bahwa Betsy sering memelihara kucing dan anjing liar semasa hidupnya, hatinya sangat baik.

Alexander menghabiskan enam minggu untuk mendokumentasikan perjalanan yang dialaminya, dalam buku terlaris versi New York Times 2012, Proof of Heaven.

Melampaui Sains

Beberapa tokoh medis mempertanyakan kebenaran pengalaman Alexander. Mereka mengatakan bahwa halusinasi selama koma dan pengobatan itu ialah hal yang wajar bagi seseorang.

Tetapi Alexander, yang merupakan ahli bedah syaraf menekankan bahwa meningitis bakteri telah mengikis seluruh korteks serebral pada saat itu, termasuk kontrol visual, pemikiran, imajinasi, dan mimpi.

Dia sendiri juga telah membuat sembilan hipotesis medis perihal pengalamannya dan berdiskusi dengan rekan seprofesinya.

Tapi saya mulai menyadari bahwa aktivitas otak tidak dapat memaparkan sama sekali, mengapa pengalaman itu begitu nyata? Hal itu dikarenakan itu memang nyata adanya. Dengan kata lain, perjalanan gaib itu bukanlah aktivitas otak secara fisik. Karena itulah, dalam menghadapi dunia transenden , ahli bedah saraf ini meletakkan pemikiran ilmiah -nya.

Alexander berkata, Saya merasa sekarang saya merupakan seorang terapis yang lebih baik. Saya benar-benar dapat membantu orang menghadapi penyakit yang paling sulit dan akhir kehidupan, karena saya telah menyaksikan gambaran jiwa yang lebih terbuka dan melihat bagaimana mereka menapak perjalanan dalam melanjutkan kehidupan mereka.

Pengalaman Alexander hanyalah salah satu contoh dari pengalaman menjelang ajal yang begitu luas.

Ada pun mengenai pengalaman menjelang ajal ini, beberapa orang percaya bahwa itu memang nyata. Ada juga yang tidak percaya ; Bagaimanapun, satu hal yang pasti: ada banyak hal di dunia yang jauh di luar lingkup ilmu pengetahuan saat ini. Diharapkan dalam waktu dekat, teka-teki ini tidak akan lagi menjadi misteri bagi umat manusia.

Lalu, menurut Kamu, apakah menjelang ajal itu nyata atau hanya ilusi? (jon)

Video Rekomendasi :

Loading...
Loading...

Comments