Jatuhkan Kembali Sanksi, Babak Baru danquot;Perang Tanpa Darahdanquot; AS dan Iran

Internasional

News / Internasional

Jatuhkan Kembali Sanksi, Babak Baru danquot;Perang Tanpa Darahdanquot; AS dan Iran

Jatuhkan Kembali Sanksi, Babak Baru danquot;Perang Tanpa Darahdanquot; AS dan Iran

KEPONEWS.COM - Jatuhkan Kembali Sanksi, Babak Baru danquot;Perang Tanpa Darahdanquot; AS dan Iran Jatuhkan Kembali Hukuman, Babak Baru "Perang Tanpa Darah" AS dan Iran Senin (21/09), Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh mengatakan bahwa Amerika Serikat sedang melancarkan perang dengan Iran sete...
Jatuhkan Kembali Hukuman, Babak Baru "Perang Tanpa Darah" AS dan Iran

Senin (21/09), Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh mengatakan bahwa Amerika Serikat sedang melancarkan perang dengan Iran setelah menjatuhkan banyak sekali hukuman kepada Republik Islam tersebut.

Hari ini Iran masih tetap berperang. Amerika telah melancarkan perang tanpa darah melawan Iran, ujar Zanganeh dikutip dari kantor informasi Kementerian Perminyakan Iran, SHANA.

Bahkan Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan langkah Washington untuk menekan Teheran telah menjadi bumerang. "Kami dapat mengatakan bahwa 'tekanan maksimum' Amerika terhadap Iran, dalam aspek politik dan hukumnya, telah berubah menjadi isolasi maksimum Amerika," katanya dalam pertemuan kabinet.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo mengumumkan bahwa AS kembali menjatuhkan seluruh sanksinya kepada Iran dan mengklaim pencabutan embargo PBB atas penjualan senjata ke Iran pada Oktober mendatang tidak lagi berlaku.

"AS menerapkan kembali semua hukuman yang dulu sempat dibatalkan PBB terhadap Republik Islam Iran," terang Pompeo, Sabtu (19/09).

Sebagai penandatangan asli dari Rencana Aksi komprehensif Bersama (JCPOA), AS menyatakan mempunyai wewenang untuk memberikan hukuman kepada negara manapun yang gagal mematuhi kesepakatan tersebut. JCPOA sendiri merupakan kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan sejumlah negara besar antara lain Jerman, Inggirs, Prancis, AS, Cina, dan Rusia. Padahal, AS telah menyatakan keluar dari kesepakatan tersebut pada tahun 2018.

Selain itu mulai Senin (21/09), AS juga memberi hukuman kepada puluhan orang dan entitas yang terlibat dalam program nuklir, misil, dan senjata konvensional Iran, kata seorang pejabat senior AS dikutip dari Reuters.

Pejabat yang tidak mau disebut namanya tersebut, mengatakan bahwa Iran bisa mempunyai cukup material untuk membangun senjata nuklir di akhir tahun ini dan Teheran disebut melanjutkan kerja sama pengembangan program misil jangka panjangnya dengan Korea Utara. Namun, ia tidak memberikan bukti rinci atas tuduhannya itu.

PBB dukung Iran

Menanggapi langkah AS, negara-negara penandatangan JCPOA antara lain Prancis, Jerman, dan Inggris mengeluarkan pernyataan bersama yang mengatakan "pengumuman yang diklaim" Washington "tidak mempunyai efek hukum". Rusia juga mengatakan keputusan Washington "tidak sah" dan tidak bisa mempunyai "konsekuensi hukum internasional" bagi negara lain.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengatakan bahwa PBB tidak akan menyokong diterapkannya kembali hukuman terhadap Iran oleh AS sampai AS mendapat lampu hijau dari Dewan Keamanan (DK) PBB.

Dalam pernyataannya, Guterres mengatakan bahwa anggota non-tetap DK PBB juga tidak merestui langkah yang diumumkan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo yang dikenal dengan istilah skema "snapback" ini.

AS merujuk pada pada Resolusi Dewan Keamanan 2231, yang menyokong kesepakatan nuklir JCPOA yang menyatakan negara peserta JCPOA bisa mengaktifikan mekanisme "snapback". Namun, DK PBB menyebut tindakan AS ilegal karena AS telah menarik diri dari JCPOA sedangkan AS bersikeras mekanisme tersebut masih berlaku bagi peserta awal kesepakatan meskipun AS sudah berhenti berpartisipasi.

Guterres mengatakan PBB, lewat DK PBB-nya tidak akan mengambil tindakan apa pun perihal hukuman yang telah dicabut harus diberlakukan kembali.

Rouhani pun berterima kasih kepada anggota DK PBB yang telah "menentang permintaan ilegal Amerika" dan mengatakan jikalau peserta kesepakatan yang tersisa membiarkan Iran mengakses keuntungan ekonomi dari kesepakatan tersebut, Iran akan mematuhi komitmen nuklir yang disepakati lima tahun lalu.

rap/vlz (AFP, AP, Reuters)

Comments