Israel kurangi pasok, listrik hanya nyala empat jam kurang di Gaza

Internasional

News / Internasional

Israel kurangi pasok, listrik hanya nyala empat jam kurang di Gaza

Anak-anak Palestina belajar dengan lilin karena krisis energi di Gaza.AFPAnak-anak Palestina belajar dengan lilin karena krisis energi di Gaza.

Israel memulai mengurangi pasok listrik untuk sekitar dua juta warga Palestina di Jalur Gaza, wilayah yang sudah mengalami krisis energi, dengan pasokan kurang dari empat jam.

Pengurangan yang diumumkan pekan lalu oleh pemerintah Israel akan memperpendek sekitar 45 menit, pasokan harian selama sekitar empat jam listrik yang diterima penduduk Gaza, kata pejabat Palestina.

Otorita Energi Palestina mengatakan perusahaan listrik Israel mengurangi delapan megawatts dari 120 MW yang dipasok ke Jalur Gaza.

Juru bicara perusahaan listrik Israel mengatakan pengurangan telah dimulai sejalan dengan keputusan pemerintah Palestina yang bermarkas di Tepi Barat untuk memasok hanya 70% biaya bulanan yang dikeluarkan ke Jalur Gaza.

Kabinet Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memberikan lampu hijau kepada perusahaan listrik untuk menerapkan pengurangan itu dengan mengatakan Israel tidak akan menutupi kekurangan pembayaran Otorita Palestina.

Palestina sendiri mengatakan mereka mengambil langkah itu karena Hamas tidak membayar biaya listrik. Tetapi banyak kalangan menganggap langkah ini diambil sebagai tekanan kepada Hamas untuk menyerahkan kekuasaan atas daerah kantung yang mereka kuasai pada 2007.

Pembangkit tenaga listrik di GazaEPAPembangkit tenaga listrik di Gaza

Pengurangan pasok listrik ini dikhawatirkan akan meningkatkan ketegangan dan ambruknya fasilitas penting di Gaza yang telah mengalami tiga kali perang dengan Israel semenjak 2008.

Hamas menguasai Gaza semenjak 2007, setelah konflik dengan partai Fatah, pimpinan Mahmoud Abbas dalam sengketa hasil pemilu yang dimenangkan oleh gerakan Islamis itu.

Sebelumnya Israel memasok 120 megawat listrik ke Gaza per bulan, atau sekitar seperempat dari kebutuhan daerah kantung itu dengan Otorita Palestina yang membayar tagihan listrik sebesar US$12,65 juta atau Rp168 miliar per bulan.

Semenjak satu-satunya pembangkit listrik di Gaza kehabisan bahan bakar dan tidak bisa dioperasikan semenjak April lalu, pasok listrik Israel menjadi sangat penting, dan menjadi pemasok sekitar 80% ketersediaan energi.

Otorita energi Gaza sendiri mengatakan pengurangan pasok listrik ini akan "berbahaya" dan memiliki "dampak serius" bagi wilayah yang memang tengah mengalami krisis listrik ini.


Comments