Gereja Sion di Jakarta Jadi Saksi Bisu Pembunuhan Keji

Lifestyle & Fashion

Life & Style / Lifestyle & Fashion

Gereja Sion di Jakarta Jadi Saksi Bisu Pembunuhan Keji

Gereja Sion di Jakarta Jadi Saksi Bisu Pembunuhan Keji

KEPONEWS.COM - Gereja Sion di Jakarta Jadi Saksi Bisu Pembunuhan Keji MELINTASI Jalan Pangeran Jayakarta, suasana kolonial begitu terasa terutama dengan kehadiran Gereja ala Portugis yang bernama Gereja Sion.Sangat megah, dan antik. Tak jauh dari sana, ada kelenteng tua...
Loading...

MELINTASI Jalan Pangeran Jayakarta, suasana kolonial begitu terasa terutama dengan kehadiran Gereja ala Portugis yang bernama Gereja Sion.

Sangat megah, dan antik. Tak jauh dari sana, ada kelenteng tua dan stasiun Kota Jakarta. Kalau dilihat penelusuran di Jalan Tertua di Jakarta ini seperti kembali ke masa penjajahan.

Namun, mengingat sejarah, jalanan Pangeran Jayakarta ini juga menjadi tempat sadis dan keji pemerintah Belanda terhadap pembunuhan Pieter Erberveld.

Tempat pembunuhannya tak jauh dari Gereja Sion, sehingga dapat dikatakan kalau gereja ini jadi saksi biksu kekejaman VOC. Dulu, Pieter Erberveld merupakan seorang Tuan Tanah di Pondok Bambu keturunan blasteran Jerman dan Bangsa Siam. Ia dibunuh karena melakukan pemberontakan.

Jadi, Pieter merasa merugi setelah tanahnya ratusan hektat disita oleh Belanda, dengan alasan ia tidak memiliki surat izin dari pemerintahan terhadap hak atas kepimilikan tanah. Ia pun geram dan tidak menyukai Belanda.

Lalu ia pun melakukan perlawanan yang didukung oleh pribumi. Namun, itu pun dinilai memberontak sehingga Pieter ditagih tiga ribu ikat padi untuk diserahkan ke Belanda. Ia pun semakin marah dan membenci VOC.

Kemudian, ia meminta dukungan ke Kesultanan Banten yakni Raden Kartadirya) dan seorang pemuda Sumbawa bernama Layek. Ia mendapatkan sambutan yang baik dan mereka memutuskan untuk melawan Belanda yang berkuasa di Batavia.

Sayangnya, pemberontakan ini tercium oleh Belanda, ketiga komplotan itu kemudian ditanggal di bulan Desember 1722. Lalu, ditahan selama empat bulan hingga bulan April, ia dihukum mati dengan keji.

Dulu, hukuman mati pemerintah Belanda biasanya gantung diri atau dipasung. Namun mereka menerapkan perbedaan untuk Pieter dan kawanannya, yang dilaksanakan di luar tembok Batavia tepatnya di Kampung Pecah Kulit berdekatan dengan Gereja Sion.

Hukuman matinya, dengan mengikat kaki dan tangan Pieter serta kawan perjuangannya ke empat ekor kuda, yang di mana kuda tersebut berlari ke arah empat mata angin berbeda-beda. Alhasil, tubuh mereka terbelah dan terpotong-potong.

Tak cukup sampai di situ, VOC kemudian mengambil kepala Pieter dan memotongnya. Setelah itu ditombak menggunakan besi, dan ditancapkan ke sebuah monumen. Monumen itu untuk memperingati warga lainnya agar tidak memberontak VOC dan menanam tumbuhan di daerah tembok Batavia.

Namun, monumen itu kemudian hilang dan dihancurkan karena di jalanan pangeran Jayakarta tersebut juga menjadi pembantaian etnis Tionghoa dan banyak kebakaran yang terjadi. Meski begitu, monumen replika bisa ditemukan di Taman Makan Prasasti.

Di mana monumen itu satu-satunya monumen yang memiliki tengkorak hitam ditancapkan tombak, dan di bawahnya terdapat goresan pena Belanda dicampur dengan bahasa aksara Jawa.

"Sebagai kenang-kenangan yang menjijikan pada si jahil terhadap negara yang telah dihukum Pieter Erberveld. Dilarang mendirikan rumah, membangun dengan kayu, meletakan batu bata dan menanam apapun di tempat ini sekarang dan selama-lamanya. Batavia, 14 April 1722, (Betawi, Queen Of East : Alwi Shahab).

Begitulah kisah tragis yang ditungkan pangeran Jayakarta, dulunya jalanan ini dinamakan sebagai Jacatra Weg. Namun, setelah kejadian dan pemerintah Indonesia menata kembali jalanan, makan berubahlah dengan nama jalanan Pangeran Jayakarta untuk mengingat pahlawan yang gugur.

Gereja Sion di Jakarta Jadi Saksi Bisu Pembunuhan Keji
Loading...

Comments