FaceApp Buatan Rusia Viral, Mengapa Ahli Keamanan Siber Khawatir?

Internasional

News / Internasional

FaceApp Buatan Rusia Viral, Mengapa Ahli Keamanan Siber Khawatir?

FaceApp Buatan Rusia Viral, Mengapa Ahli Keamanan Siber Khawatir?

KEPONEWS.COM - FaceApp Buatan Rusia Viral, Mengapa Ahli Keamanan Siber Khawatir? FaceApp Buatan Rusia Viral, Mengapa Ahli Keamanan Siber Khawatir? Rambut menjadi abu-abu, wajah berkerut dan kulit menua, itulah yang akan dialami kebanyakan dengan bertambahnya usia. Bila biasanya ba...
Loading...
FaceApp Buatan Rusia Viral, Mengapa Ahli Keamanan Siber Khawatir?

Rambut menjadi abu-abu, wajah berkerut dan kulit menua, itulah yang akan dialami kebanyakan dengan bertambahnya usia. Bila biasanya banyak orang berusaha menghindari penuaan, FaceApp mengubah kecenderungan ini. Pengguna ramai-ramai sengaja menuakan diri. Sebuah permainan yang mengasyikan.

Itulah yang dijanjikan software FaceApp. Orang-orang bisa melihat sendiri bagaimana mereka menjadi tua, hanya dalam hitungan detik. Yang perlu dilakukan hanya mengunggah foto wajah mereka saat ini. Di sosmed, banyak orang kelihatannya tergila-gila dengan kemungkinan itu, termasuk banyak selebriti.

Software ini ialah contoh nyata perihal betapa mudahnya gambar bisa dimanipulasi secara meyakinkan. Tapi yang lebih penting lagi ialah kenyataan, betapa mudahnya kita mengunggah wajah foto kita ke software yang asal-usulnya tidak begitu kita kenal.

Jutaan pengguna di seluruh dunia tampaknya menikmati fasilitas FaceApp. Software ini merupakan unduhan nomor satu di toko software Android dan iOS - sebuah kesuksesan besar bagi pengembang Rusia, Wireless Lab. Software ini sebenarnya sudah ada selama sekitar dua tahun. Tapi sekarang, seperti kebetulan FaceApp ditemukan oleh para selebriti yang turut menyulut antusiasme pengguna.

Siapa di belakang FaceApp?

Tidak banyak yang diketahui perihal perusahaan Wireless Lab yang berbasis di St. Petersburg, Rusia. Perusahaan tidak hanya mengumpulkan data pengguna, tetapi juga menyimpan gambar-gambar yang diunggah pengguna, tanpa persyaratan yang jelas. Para pengamat keamanan siber khawatir, pemerintah Rusia pada akhirnya bisa mendapat semua berita pengguna.

Yaroslav Goncharov, CEO FaceApp, membantah bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin juga ikut-ikutan memakai aplikasinya. Tapi dia membenarkan, bahwa gambar asli dari pengguna memang diunggah dan diproses dengan memakai cloud. Artinya, data-data itu dikumpulkan di suatu tenpat.

Servernya tidak berada di Rusia, tetapi di Amerika Serikat, Singapura dan Irlandia, dan milik Amazon atau Google, kata Wireless Lab. Sebagian besar gambar dihapus dalam waktu 48 jam. Kecuali untuk pengiklan, pihak ketiga tidak mendapatkan metadata apa pun. Ini taktik yang mirip dengan cara Google dan Facebook menangani data, paling sedikit, itulah pernyataan mereka.

Hak guna terlalu kabur

Data-data pribadi bisa jatuh ke tangan yang salah, kata kepala perlindungan data Jerman, Ulrich Kelber. Dia mengatakan, persyaratan penggunaan software FaceApp "terlalu kabur".

Di AS, anggota parlemen mulai bersuara dan meminta badan intelijen FBI mengamati FaceApp lebih seksama. Chuck Schumer, anggota Senat dari New York, menulis kepada FBI dan Komisi Perdagangan Federal AS, meminta agar FaceApp diselidiki untuk kemungkinan transfer data-data pribadi dari AS ke pihak ketiga karena bisa saja pihak ketiga adapah pihak "musuh".

"Lokasi FaceApp di Rusia menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana dan kapan perusahaan memberikan akses ke data-data warga AS kepada pihak ketiga, termasuk ke pemerintah asing," tulis Schumer.

Komite Nasional Partai Demokrat memperingatkan para kandidat presiden mereka untuk tidak memakai FaceApp, karena ada kemungkinan data-data mereka bisa diakses pihak ketiga.

Seperti banyak software lain, FaceApp tampaknya mengambil data model dan nomor seri ponsel untuk menganalisis bagaimana software tersebut digunakan. Masih belum jelas, apakah dan untuk tujuan apa foto-foto pengguna software itu digunakan. hp/vlz

Loading...

Comments