Diklaim Jadi Alternatif, Dokter Paru : Rokok Elektrik Tak Terbukti Hilangkan Kebiasaan Merokok

Kesehatan

Life & Style / Kesehatan

Diklaim Jadi Alternatif, Dokter Paru : Rokok Elektrik Tak Terbukti Hilangkan Kebiasaan Merokok

Diklaim Jadi Alternatif, Dokter Paru : Rokok Elektrik Tak Terbukti Hilangkan Kebiasaan Merokok

KEPONEWS.COM - Diklaim Jadi Alternatif, Dokter Paru : Rokok Elektrik Tak Terbukti Hilangkan Kebiasaan Merokok Perdebatan wacana aman atau tidaknya rokok elektronik bagi kesehatan masih terus berlanjut. Pasalnya, masih banyak ahli medis yang mengklaim bahwa, rokok elektrik bisa dijadikan alternatif untuk berhe...

Perdebatan wacana aman atau tidaknya rokok elektronik bagi kesehatan masih terus berlanjut. Pasalnya, masih banyak ahli medis yang mengklaim bahwa, rokok elektrik bisa dijadikan alternatif untuk berhenti merokok.

Hal tersebut merujuk pada sebuah studi yang didukung oleh National Institute for Health Research and Cancer Research UK. Hasil temuan pertama dari penelitian itu merupakan 18% partisipan yang memakai rokok elektrik berhasil berhenti merokok selama setahun, dan hanya 10% yang memakai Nicotine Replacement Therapy NRT berhenti merokok.

Dari total orang yang sukses berhenti merokok, 80% partisipan yang memakai rokok elektrik masih memakai vape, dan hanya 9% pengguna NRT tetap memakai produk ini.

Studi ini juga menyebutkan, batuk dan dahak cenderung lebih rendah pada partisipan yang memakai rokok elektrik. Mereka pun mengklaim bahwa rokok elektronik lebih efektif untuk menghentikan kebiasaan merokok dibandingkan dengan produk pengganti nikotin.

Klaim tersebut dibantah secara terang-terangan oleh Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), DR. dr. Agus Dwi Susanto Sp.P(K). Menurutnya, sebuah produk baru dapat dikatakan efektif dalam menghentikan kebiasaan merokok, apabila memenuhi prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)

Untuk kasus rokok elektronik ini sendiri, semenjak 2014 lalu WHO sebetulnya telah mengeluarkan pernyataan resmi bahwa tidak ada cukup bukti untuk menyatakan rokok elektronik dapat membantu seseorang untuk berhenti merokok.

"Kenapa WHO tidak merekomendasikan?, Karena hasil risetnya tidak konsisten. Analoginya, obat itu baru dinyatakan ampuh atau efektif bila semua penelitian menunjukkan hasil yang sama. Sementara untuk rokok elektronik, hampir ada ratusan riset, dan ketika digabung dan dianalisa, si rokok elektronik ini ternyata tidak terbukti efektif menghilangkan kebiasaan merokok," tegas dr. Agus saat dihubungi Okezone via sambungan telefon, Kamis (13/2/2020).

Vape

Agus kemudian memaparkan secara gamblang 8 prinsip yang telah dikeluarkan WHO bagi pasien yang ingin menjalani Terapi Pengganti Nikotin (NRT). Kedelapan prinsip inilah yang nantinya akan membuktikan bahwa rokok elektronik tidak terbukti menghilangkan kebiasaan merokok.

Pertama, pengguna NRT harus sudah berhenti merokok sebelum memulai terapi. Apabila pasien masih memakai rokok konvesional dan NRT secara bersamaan (dual user), dikhawatirkan akan terjadi yang namanya double toxic, dan dapat memicu risiko kesehatan yang lebih tinggi. Pasalnya, kedua produk ini sama-sama mempunyai kandungan nikotin.

Ironisnya, hasil penelitian yang dilakukan dr. Agus bersama mahasiswi Kedokteran Universitas Indonesia, menyebutkan bahwa jumlah perokok ganda atau dual user di Indonesia terbilang tinggi, hingga mencapai 61,5%.

Berhenti Merokok

Kedua, penggunaan NRT bertujuan untuk mengatasi gejala putus nikotin saat berhenti merokok (withdrawal). Ketiga, NRT juga harus mempunyai efektivitas yang baik untuk membantu pasien berhenti merokok.

Keempat, NRT tidak boleh menyebabkan masalah kesehatan baru di kemudian hari. Kenyataannya, selain mengandung nikotin, rokok elektrik juga mengandung karsinogen yang dapat meningkatkan risiko banyak sekali penyakit, seperti EVALI hingga kanker. Kelima, NRT dapat mengurangi atau menghilangkan banyak risiko kesehatan karena rokok.

Selanjutnya

Comments