Dear Orang Tua, Jangan Paksakan Anak dengan Cita-cita Anda!

Lifestyle & Fashion

Life & Style / Lifestyle & Fashion

Dear Orang Tua, Jangan Paksakan Anak dengan Cita-cita Anda!

Dear Orang Tua, Jangan Paksakan Anak dengan Cita-cita Anda!

KEPONEWS.COM - Dear Orang Tua, Jangan Paksakan Anak dengan Cita-cita Anda! Ilustrasi (Depositphotos) Hingga 10-15 tahun lalu, harapan masyarakat kita masih fokus kepada sekolah formal dan impian normal bagi masa depan anak-anaknya. Sekarang, kesadaran akan pengembangan bak...
Dear Orang Tua, Jangan Paksakan Anak dengan Cita-cita Anda!

Ilustrasi (Depositphotos)

Hingga 10-15 tahun lalu, harapan masyarakat kita masih fokus kepada sekolah formal dan impian normal bagi masa depan anak-anaknya. Sekarang, kesadaran akan pengembangan bakat dan minat di masyarakat begitu tinggi.

Pemerintah menyokong dengan menggiatkan kembali sekolah kejuruan. Lembaga-lembaga pendidikan pengembangan bakat dan minat pun bermunculan. Sebutlah apa yang Kamu atau anak Kamu inginkan. Bahkan yang belum pernah terpikirkan, sekarang ada tempat belajarnya, ungkap Anggia Chrisanti Wiranto, konselor dan terapis di Biro Konsultasi Psikologi Westaria.

Sekolah DJ? Sekolah untuk membuat animasi? Sebut saja dan itu (tempat belajarnya) ada, imbuhnya.

Sebuah perkembangan positif. Kamu dan anak jadi mempunyai banyak alternatif dan bisa fleksibel terhadap impian dan harapan.

Sayangnya, banyak orangtua yang lupa untuk bertanya kepada anak, mengecek dan melakukan pengukuran bakat dan minat (melalui psikotes). Sehingga pemberian kesempatan untuk anak-anak mengembangkan potensi menjadi lebih didominasi keinginan atau asa orangtua dulu yang tidak kesampaian, entah karena dulu tidak ada kesempatan atau alasan lainnya, papar Anggia.

Alih-alih memberi dukungan kepada anak, yang terjadi justru Kamu memaksa anak melakukan hal yang belum tentu disukainya.

Lebih parahnya, belum tentu anak mempunyai potensi di bidang itu (bidang yang pernah Kamu cita-citakan).

Bias ini harus diwaspadai. Karena berpotensi menyebabkan stres yang tinggi pada anak. Apa lagi kalau jelas anak masih harus sekolah formal. Maka habislah masa kanak-kanak, masa menyenangkan anak, dan mungkin waktu beristirahat yang dibutuhkan, urai Anggia.

Beberapa tip berikut untuk membantu Kamu agar menyokong anak dengan cara yang tepat. Perhatikan langkah demi langkahnya :

Coba perhatikan anak, apakah ia bersemangat dan ingin mendapat prestasi di sana?

Kalau 'ya', artinya Kamu cukup tepat memfasilitasi anak. Bila 'tidak', coba bicarakan baik-baik, dan cari tahu apakah anak memang menginginkannya atau tidak. Akan lebih baik jikalau Kamu lakukan psikotes untuk melihat bakat dan minat dengan cukup tepat.

Ada kalanya anak mengalami jenuh, bosan, dan kelelahan (terutama jikalau jadwal di sekolah sedang padat atau sedang ada evaluasi). Sebaiknya Kamu coba pahami, komunikasikan, dan beri anak jeda untuk sejenak berhenti atau cuti dari les atau kursusnya. Jangan malah memarahi dan memaksa. Hal ini bisa jadi bumerang, karena anak akan merasa terlalu dipaksa.

Bila awalnya anak tertarik dan menikmati, tapi beberapa waktu berikutnya terjadi perubahan, selidiki apa yang sesungguhnya terjadi. Apakah memang minat anak yang menurun atau ada hambatan dari luar. Segera cari solusinya.

Rekomendasi

Comments