Ciri-ciri Pria Posesif dan Cara Memutuskan Hubungan dengannya

Kesehatan

Life & Style / Kesehatan

Ciri-ciri Pria Posesif dan Cara Memutuskan Hubungan dengannya

Ciri-ciri Pria Posesif dan Cara Memutuskan Hubungan dengannya

KEPONEWS.COM - Ciri-ciri Pria Posesif dan Cara Memutuskan Hubungan dengannya Ilustrasi (Depositphotos) Mempunyai pasangan, apalagi yang pengertian, tentu menyenangkan. Nah bagaimana ketika pasangan menunjukkan sikap yang membuat kita tidak nyaman, haruskah bertahan dengannya...
Ciri-ciri Pria Posesif dan Cara Memutuskan Hubungan dengannya

Ilustrasi (Depositphotos)

Mempunyai pasangan, apalagi yang pengertian, tentu menyenangkan. Nah bagaimana ketika pasangan menunjukkan sikap yang membuat kita tidak nyaman, haruskah bertahan dengannya? Dia mengekang, membatasi pergaulan, harus mengetahui setiap gerak-gerik Kamu bahkan kata sandi semua akun sosmed Kamu. Padahal statusnya baru pacar. Adanya rasa mempunyai merupakan hal lumrah. Tapi kalau sudah berlebihan apalagi posesif, Kamu perlu waspada.

Tanda-tanda

Seperti kebanyakan orang, dalam masa pendekatan, mereka yang posesif terlihat baik dan menyenangkan. Mendeteksi sifat posesif pacar saat masa pendekatan agak sulit. Kamu mulai bisa merasakannya ketika memasuki satu atau dua bulan masa pacaran.

Dia biasanya superperhatian. Yang bisa digarisbawahi dan dipahami, umumnya dia terlalu mau tahu perihal diri kita secara mendetail, bahkan terlalu spesifik. Dia bisa menanyakan Kamu setiap jam, menit, detik, sampai meminta Kamu mengirim peta lokasi keberadaan Kamu, ungkap Roslina Verauli, psikolog anak, remaja, dan keluarga yang juga penulis buku Cerita Cinta: Memahami Cinta Sejati.

Selanjutnya, dia mulai menentukan dengan siapa Kamu boleh berteman dan tidak. Pun dia akan menetapkan batas-batas dalam hubungan pertemanan itu. Dia mulai membatasi kekerabatan dengan orang-orang yang signifikan, karena dia mau Kamu hanya mempunyai kekerabatan dengannya dan bergantung padanya, terang Vera.

Ketergantungan yang diciptakannya beragam. Dia akan membuat Kamu bergantung secara finansial, sosial, hingga emosional. Sehingga Kamu merasa hanya dia terpenting dalam kehidupan Kamu. Setelah itu dia akan mengontrol Kamu. Seseorang yang posesif punya dorongan yang kuat untuk mendominasi dan mengendalikan sebuah hubungan, Vera menyambung. Lama-lama rasanya seolah dia berhak atas diri Kamu sepenuhnya.

Ketika pria dan wanita menjalin hubungan yang intim, memang akan ada bagian yang menjadi hak pasangan. Namun selalu ada area untuk diri sendiri. Apa saja itu? Area untuk mengembangkan diri, berkarier, mempunyai kehidupan sosial, berinteraksi dengan keluarga, melakukan hobi. Harus tetap ada ruang pribadi, tegas Vera.

Cintai Diri Kamu

Ketika ruang pribadi diinvasi hingga Kamu merasa gerah dan sesak, artinya hubungan sudah tidak sehat. Ini tidak baik dan saatnya mengakhiri hubungan, ucap Vera. Namun sebelum Kamu menyadari bahwa semua aksi posesif itu salah dan bisa mengambil keputusan tegas untuk menyudahi hubungan, ada satu poin penting yang perlu Kamu pertanyakan dan jawab: seberapa besar Kamu mencintai dan menghargai diri sendiri?

Dalam beberapa kasus, individu yang didominasi biasanya juga bermasalah. Misalnya, penghargaan terhadap diri sendiri pun rendah. Sehingga dia lemah, tidak percaya diri. Dia percaya bahwa dia memang tergantung pada pasangannya. Lalu takut keluar dari hubungan yang tidak sehat itu. Biasanya individu yang bermasalah akan menarik individu yang bermasalah juga. Tercipta tarik-menarik di antara para individu yang bermasalah ini, ungkap Vera.

Kalau Kamu betul-betul mencintai dan menghargai diri Kamu, pastinya Kamu menyadari bahwa aksi-aksi posesif seperti yang dipaparkan di atas tidaklah benar. Kamu tahu Kamu harus mengambil sikap. Katakan perpisahan secepatnya dengan tegas, ucap Vera. Memang, melepaskan diri dari seseorang yang posesif tidak mudah.

Karena sifat posesif ujung-ujungnya berkaitan dengan kekerasan dalam hubungan. Ini terkoneksi. Baik itu kekerasan fisik maupun verbal. Kamu bisa diancam, ditakut-takuti. Untuk memutus hubungan, saran saya libatkan keluarga dan teman-teman. Pada tahap tertentu, Kamu mungkin bisa meminta bantuan psikolog untuk mencari jalan keluar. Namun ketika sudah masuk ranah kekerasan fisik, tidak ada cara lain, sebaiknya langsung menempuh jalur hukum, pungkasnya.

Rekomendasi

Comments