Budaya Menutup-nutupi di Boeing Turut Sebabkan Lion Air JT-610 Jatuh

Internasional

News / Internasional

Budaya Menutup-nutupi di Boeing Turut Sebabkan Lion Air JT-610 Jatuh

Budaya Menutup-nutupi di Boeing Turut Sebabkan Lion Air JT-610 Jatuh

KEPONEWS.COM - Budaya Menutup-nutupi di Boeing Turut Sebabkan Lion Air JT-610 Jatuh Jatuhnya pesawat Boeing 737 Max di Indonesia dan Ethiopia sebagian disebabkan oleh keengganan pembuat pesawat untuk membuatkan rincian teknis, menurut temuan penyelidikan Kongres Amerika Serikat. Kong...

Jatuhnya pesawat Boeing 737 Max di Indonesia dan Ethiopia sebagian disebabkan oleh keengganan pembuat pesawat untuk membuatkan rincian teknis, menurut temuan penyelidikan Kongres Amerika Serikat.

Kongres menyalahkan "budaya menutup-nutupi" di Boeing, tapi juga menyebutkan bahwa sistem regulasi "cacat secara fundamental".

Boeing mengatakan telah "mendapat banyak pelajaran penting" dari kecelakaan tersebut.

Namun keluarga korban menuduh perusahaan dan regulator terus menyembunyikan berita.

Laporan Kongres AS sangat kritis terhadap Boeing dan regulator penerbangan di negeri itu, Federal Aviation Administration (FAA).

"Boeing gagal dalam desain dan pengembangan Max, dan FAA gagal dalam pengawasan terhadap Boeing serta sertifikasi pesawat tersebut," demikian kesimpulan dari penyelidikan selama 18 bulan itu.

Boeing 737 Max dilarang terbang semenjak Maret 2019 setelah dua insiden di Indonesia dan Ethiopia menyebabkan kematian 346 orang.

A Boeing 737 MAX 8 airplane is pictured outside the company`s factory.

Getty Images

Laporan setebal 250 halaman itu menemukan serangkaian kegagalan dalam desain pesawat, ditambah "regulatory capture", adalah hubungan yang terlalu dekat antara Boeing dan regulator federal, yang mengompromikan proses sertifikasi keselamatan.

"[Kecelakaan itu] merupakan kulminasi dari serangkaian asumsi teknis yang salah oleh para insinyur Boeing, kurangnya transparansi di pihak manajemen Boeing, dan minimnya pengawasan oleh FAA."

Boeing mengatakan telah membuat "perubahan mendasar" pada perusahaan sebagai karena dari kecelakaan itu.

FAA menyatakan akan bekerja dengan para legislator untuk "menerapkan perbaikan yang dicantumkan dalam laporan".

Laporan tersebut mengatakan Boeing gagal membagikan berita wacana sistem keamanan utama, yang disebut MCAS, yang dirancang untuk secara otomatis mengonter kecenderungan 737 Max untuk mengarah ke atas. Boeing bersalah karena "menyembunyikan keberadaan MCAS dari para pilot 737".

MCAS tidak disebut dalam manual kru dan Boeing berusaha meyakinkan regulator untuk tidak mewajibkan pelatihan simulator untuk pilot Max, yang akan membutuhkan ongkos tambahan.

Sistem MCAS disalahkan atas kedua kecelakaan yang terjadi dalam selang beberapa bulan, tak lama setelah pesawat mulai beroperasi.

`Hentikan proses sertifikasi ulang`

"FAA harus segera menghentikan proses sertifikasi ulang untuk 737 Max sehubungan dengan laporan ini," kata Michael Stumo, yang putrinya Samya Rose Stumo meninggal dalam kecelakaan di Ethiopia pada Maret 2019.

BBC Indonesia

Ponsel Hilang di Hutan, Saat Ditemukan Sudah Penuh Foto Selfie Monyet

Yoshihide Suga jadi Perdana Menteri Jepang.-Reuters

Yoshihide Suga Terpilih jadi Perdana Menteri Jepang

Seorang warga Nusa Lembongan bersiap turun ke laut untuk membudidayakan rumput laut.-ANTON MUHAJIR

Pariwisata Bali Terpuruk, Rumput Laut Selamatkan Warga Nusa Lembongan

BBC Indonesia

Bangkai Beruang dari Zaman Es Ditemukan di Siberia

"FAA dan Boeing telah menyembunyikan berita sebelumnya dan melakukannya lagi sekarang," imbuhnya.

"Baik Boeing maupun FAA menolak memberikan data yang menyokong upaya mereka untuk menerbangkan kembali pesawat [737 Max]. Max tidak boleh terbang sampai Boeing dan FAA membuka data ini, sehingga para pakar independen dan publik bisa memastikan pesawat tersebut aman."

Zipporah Kuria

BBCZipporah Kuria mengatakan: Kita harus menonaktifkan Max

Warga negara Inggris Zipporah Kuria, yang kehilangan ayahnya dalam kecelakaan yang sama, mengatakan bahwa sertifikasi ulang 737 Max akan "sangat tidak bertanggung jawab".

"Hati saya hancur. Ayah saya kehilangan nyawanya dan saya kehilangan dia," ujarnya.

"Kalau saya kehilangan dia karena sensor yang cacat, saya mungkin bisa menerimanya sebagai kecelakaan, tapi saya kehilangan ayah saya karena keserakahan, korupsi, dan ketidakberadaban manusia.

"Inilah mengapa kita perlu menonaktifkan Max. Masyarakat seharusnya tidak terus menanggung beban untuk para pengambil jalan pintas tidak punya hati nurani."

Regulator yang `terjebak`

Paul Njoroge dari Kanada, yang seluruh keluarganya tewas dalam perjalanan ke Kenya untuk mengunjungi kakek-neneknya, mengatakan laporan itu mendokumentasikan "kelalaian yang jelas dari Boeing dan FAA dalam proses desain dan sertifikasi 737 Max".

"Oleh karena itu jelas bahwa di Boeing, keselamatan diprioritaskan setelah penghematan, maksimalisasi keuntungan, dan kenaikan harga saham," imbuhnya.

"Lebih jauh, laporan tersebut tidak diragukan lagi menyoroti FAA sebagai regulator yang `terjebak` dengan demikian FAA menjadi agen yang mempromosikan Boeing dan industri penerbangan, alih-alih mengutamakan keselamatan publik yang menjadi penumpang pesawat terbang."

Regulator di seluruh dunia saat ini sedang memproses sertifikasi keamanan baru untuk 737 Max yang dimodifikasi.

FAA memulai penerbangan uji coba pada bulan Juni, sementara Badan Keamanan Penerbangan Uni Eropa (EASA) memulai program pengujiannya sendiri awal bulan ini.

EASA telah menyatakan bahwa izin oleh FAA tidak secara otomatis berarti pesawat tersebut dianggap layak terbang di Eropa.

"Setelah FAA dan regulator lain menentukan Max bisa kembali beroperasi dengan aman, ia akan menjadi salah satu pesawat yang sudah melalui pemeriksaan paling teliti dalam sejarah, dan kami sepenuhnya percaya pada keselamatannya," kata Boeing.

Comments