Anak Kerap Dimarahi Orang Tua, Ini Dampak Negatifnya di Masa Depan

Lifestyle & Fashion

Life & Style / Lifestyle & Fashion

Anak Kerap Dimarahi Orang Tua, Ini Dampak Negatifnya di Masa Depan

Anak Kerap Dimarahi Orang Tua, Ini Dampak Negatifnya di Masa Depan

KEPONEWS.COM - Anak Kerap Dimarahi Orang Tua, Ini Dampak Negatifnya di Masa Depan Anak-anak sangat bergantung kepada orang tua dalam belajar. Kalau kemarahan diasosiasikan dengan teriakan, anak akan menganggap berteriak hal yang lumrah. Kemudian, perilaku anak kelak akan merefleksi...
Loading...

Anak-anak sangat bergantung kepada orang tua dalam belajar. Kalau kemarahan diasosiasikan dengan teriakan, anak akan menganggap berteriak hal yang lumrah. Kemudian, perilaku anak kelak akan merefleksikan teriakan itu. Selain itu, bicara dengan berteriak dan membentak membuat pesan yang ingin Kamu sampaikan menjadi tidak jelas. Anak-anak tidak akan menangkap pesan di balik teriakan. Sebaliknya, Kamu semakin kesulitan mendisiplinkan mereka mengingat setiap kali Kamu meninggikan nada bicara, respek anak terhadap Kamu menurun.

Dalam studi yang dilakukan di Universitas Kesehatan Nasional di Bethesda, Maryland, AS, dikatakan bahwa berteriak membuat anak lebih proaktif, baik secara fisik maupun verbal. Berteriak, apa pun konteksnya, merupakan ekspresi kemarahan. Itu menakutkan bagi anak, membuat mereka merasa tidak aman. Dan yang tak penting, menjatuhkan harga diri mereka.

Dampak jangka panjangnya, anak yang sering mendengarkan teriakan bisa terkena gangguan kesehatan mental seperti kecemasan berlebihan, rendah diri, dan lebih proaktif. Selain itu, anak-anak menjadi lebih rentan terhadap tindak perundungan karena pemahaman mereka wacana batasan dan harga diri amat rendah. Bu, teriakan Kamu buat si kecil tidak hanya memantik efek jangka panjang.

Kelembutan dan Efek Jera

Nada tinggi yang ada lantunkan untuk mendisiplinkan anak juga menciptakan efek jangka pendek yang tercermin pada perilaku si buah hati, antara lain:

1. Anak akan berteriak untuk mendapatkan keinginannya.

2. Saat Kamu berteriak, anak akan melawan bahkan berteriak kembali kepada Kamu serta segan bicara dengan sopan.

3. Hubungan Kamu dan anak tidak stabil karena tidak bisa berkomunikasi secara sehat.

4. Bisa jadi, mereka menarik diri dari Kamu dan menjadi lebih terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya.

Sebaliknya, kelembutan memberi ketentraman. Anak merasa diterima serta dicintai. Ketika mereka melakukan hal buruk, menegur mereka dengan kelembutan justru memberi efek jera yang lebih efektif. Nada bicara lembut membuat pesan yang disampaikan terdengar lebih jelas, komunikasi lebih efektif, dan menguatkan hubungan emosi orangtua dan anak.

Ketika anak merasa aman dan dicintai tanpa syarat, akan lebih mudah bagi orang tua untuk mendisiplinkan mereka. Anak-anak akan lebih terbuka dengan dialog dan mendengarkan sebelum konflik berkembang menjadi adegan penuh teriakan dan amarah, papar dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Anak Wisconsin, AS, Laura Marusinec, MD.

Anak-anak memang sering berlaku buruk. Itu bagian dari proses tumbuh kembang mereka. Tugas Kamu, memberikan pemahaman mana yang baik dan buruk dengan lembut, jelas, serta tidak menyakiti hati mereka. Tapi sesabar-sabarnya orangtua, sesekali tentu lepas kontrol lalu berteriak. Jikalau terlanjur terjadi, apa yang harus dilakukan orangtua?

Ketika situasi sudah terkendali, dekati anak lalu minta maaf. Jelaskan bahwa Kamu tidak bisa mengendalikan emosi. Katakan padanya dalam situasi apa pun, berteriak bukan cara berkomunikasi yang baik. Tidak perlu malu untuk berkata, Maaf, karena ibu telah berteriak-teriak tadi. Ibu salah, karena sudah berteriak-teriak. Lain kali, tidak akan ibu lakukan lagi. Dengan begitu anak belajar semua orang bisa melakukan kesalahan. Karenanya, mereka patut minta maaf. Tanpa teriakan dan marah-marah, ibadah puasa Kamu akan berjalan lebih khusyuk.

(riz)

Rekomendasi

Anak Kerap Dimarahi Orang Tua, Ini Dampak Negatifnya di Masa Depan
Loading...

Comments